Pemerintah Akan Tambah Importir Gula

JAKARTA – Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu tengah mempelajari kemungkinan menambah jumlah importir terdaftar gula kristal putih.

“Saya sepakat dengan DPR untuk memperluas importir,” kata dia seusai rapat kerja dengan Komisi Perdagangan DPR kemarin.

Mari menuturkan, rencana untuk memperluas importir terdaftar dilandasi keinginan untuk memeratakan impor gula, tidak hanya terbatas di Pulau Jawa tapi juga di luar Pulau Jawa. “Sebelum itu dilakukan, perlu ada perubahan terhadap kebijakan tata niaga impor gula,” ujarnya.

Kebijakan tata niaga diatur dalam Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 527/2004 tentang Ketentuan Impor Gula. Dalam pasal 9 disebutkan antara lain importir terdaftar adalah perusahaan yang tebunya paling sedikit 75 persen bersumber dari petani tebu atau hasil kerja sama dengan petani tebu setempat.

Dalam rapat kerja itu, Komisi Perdagangan dan Menteri Perdagangan menyepakati beberapa kesimpulan. Di antaranya adalah desakan agar pemerintah mengevaluasi kebijakan tata niaga gula.

Ketua Komisi Perdagangan Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, evaluasi ini terkait tekad bersama untuk mengurangi ketergantungan terhadap gula impor dan harga internasional.

“Juga harapan agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan gula secara swasembada,” ungkapnya.

Dalam kesimpulan itu disebutkan beberapa kebijakan tata niaga gula yang harus ditinjau kembali, antara lain perluasan pemberian izin impor terdaftar gula yang selama ini hanya dipegang PTPN IX, X, XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

DPR berpandangan perlunya pemerataan dan penyebaran importir terdaftar berdasarkan letak geografis. Misalnya kepada PTPN II yang melayani Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, dan Nanggroe Aceh Darussalam. PTPN VII di wilayah Lampung, Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan, serta PTPN XIV yang melayani wilayah Indonesia timur.

Tak cuma itu, DPR dan pemerintah sepakat untuk mewajibkan perusahaan-perusahaan importir terdaftar gula agar berkontribusi dalam perbaikan kondisi industri gula di dalam negeri.

Kontribusi itu bentuknya antara lain memenuhi kewajiban agar dalam jangka waktu tertentu bahan baku gula berasal dari tebu rakyat atau hasil kerja sama dengan petani untuk meningkatkan luas dan penyebaran areal pertanian tebu.

Komisi Perdagangan mendesak pemerintah meningkatkan kinerja pemantauan dan evaluasi kinerja importir terdaftar. Tujuannya tak lain agar kinerja dapat terpantau secara rutin dalam waktu singkat.

Selain itu diperlukan optimalisasi penggunaan kapasitas terpasang yang belum terpakai melalui perluasan izin impor gula mentah bagi produsen gula nasional. Pada saat yang sama impor gula putih harus dikurangi secara bertahap.

Pemerintah juga diminta konsisten mengalokasikan dana dari bea masuk gula untuk memperbaiki industri pergulaan nasional. Pemerintah didesak untuk melakukan evaluasi terhadap importir terdaftar dan memberikan sanksi terhadap penyimpangan di dalam pelaksanaannya demi melindungi kepentingan seluruh rakyat selaku konsumen.

Anggota Komisi Perdagangan Nasril Bahar menuturkan bahwa kenaikan harga gula belakangan ini turut dipengaruhi oleh keterlambatan pemberian izin impor gula dan sempitnya tenggang waktu impor yang diberikan.

Akibatnya, kata Nasril, pedagang gula internasional berpeluang untuk mempermainkan harga gula. Apalagi Indonesia diperkirakan pada Mei 2005 sudah memasuki masa musim giling yang berarti tidak lagi diperkenankan melakukan impor.

“Seharusnya tenggat izin impor cukup panjang agar importir mempunyai banyak pilihan, seperti mengimpor dari Brasil,” ujarnya.

Menanggapi itu, Mari menyampaikan kenaikan harga gula secara nasional belakangan ini memang terkait harga internasional yang meningkat karena tingginya permintaan dari negara pengimpor gula seperti Cina dan India. Di sisi lain terjadi penurunan produksi gula seperti di Thailand sebesar 10 persen dari 6 juta ton pada 2003 menjadi 5,4 juta ton pada 2004.

Produksi gula nasional pada 2004 mencapai sekitar 2 juta ton. Angka ini meningkat dibandingkan produksi 2003 sebesar 1,6 juta ton. Kebutuhan gula nasional ditaksir sebesar 3,2-3,5 juta ton per tahun. Jika peningkatan produksi ini dapat dipertahankan diperkirakan pada 2007 Indonesia tidak perlu lagi mengimpor gula. Tahun berikutnya Indonesia dapat menjadi negara eksportir gula. efri ritonga.

Koran Tempo
Rabu, 2 Maret 2005




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: