Pemerintah Tak Punya Solusi Listrik

Krisis listrik yang terjadi di Indonesia termasuk Sumatera Utara merupakan dampak dari kesalahan pemerintahan pada masa lalu, kata anggota DPR RI. Pasalnya, kata dia,pemerintah saat itu tidak memikirkan alternatif selain minyak untuk bahan bakar pembangkit listrik. Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) H. Nasril Bahar berbicara didampingi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Kota Medan Ahmad Arief, SE, MM, kepada Waspada di Medan, Sabtu (4/11) malam.

Nasril menjelaskan, ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) masih murah, pemerintah memanfaatkan minyak sebagai bahan bakar untuk mesin pembangkit listrik. Hampir seluruh mesin pembangkit menggunakan BBM, katanya. Saat itu, pemerintah tidak memikirkan bahan bakar alternatif seperti batubara, Akibatnya, kata dia, ketika harga minyak naik dan pemerintah mengurangi subsidi, terjadilah krisis listrik.

“Pada akhirnya, rakyat Indonesia akan menanggung beban dengan naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL) setiap kali terjadi kenaikan harga minyak dan pengurangan subsidi.”

“Seharusnya, pemerintah mempunyai rancangan pembangunan jangka panjang sehingga mampu memprediksi dan mengantisipasi situasi perekonomian di Indonesia dalam kurun waktu 50 tahun ke depan,” ujar Nasril.

Untuk mengatasi krisis listrik, dia berpendapat pemerintah harus lebih bijaksana dan jangan mengambil jalan pintas dengan menaikkan TDL. Krisis listrik tersebut dapat ditanggulangi dengan memberikan kesempatan kepada investor untuk berinvestasi di bidang kelistrikan di Indonesia, katanya.

Selain itu, pemerintah perlu secepatnya mengoperasikan pembangkit listrik yang telah dibangun seperti PLTA Renun di Dairi dan PLTU Labuhan Angin di Tapanuli Utara. Sebagaimana pengakuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), persediaan batubara sangat cukup memenuhi kebutuhan pembangkit listrik. Karenanya dalam pembahasan APBN 2007, direncanakan akan dibangun pembangkit listrik tenaga batubara dengan kapasitas 10.000 mega watt.

Nasril juga mempertanyakan tentang proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi di Tapanuli Utara yang mampu memasok listrik 350 mega watt. Meski proses tender telah selesai dilaksanakan, namun sampai saat ini proyek tersebut belum juga dikerjakan, tuturnya.

Konsumen kecewa

Pemadaman listrik, menurut PLN unit pembangkitan Sumbagut, akan berlangsung hingga 30 hari ke depan. Akibatnya banyak konsumen yang menyatakan kecewa atas kondisi tersebut karena tidak ada solusi yang bisa diberikan. Bahkan pemadaman bisa berlangsung dua kali sehari pada beberapa tempat. Menurut pantauan Waspada, Sabtu (4/11), di Padang Bulan, Perumnas Simalingkar, Perumnas Mandala serta beberapa daerah lain, pemadaman terjadi dua kali sehari.

Pertama berlangsung siang antara pk. 12.00 hingga pk.16.00 kemudian pk.22.00 hingga menjelang pagi. Aritonang, penduduk Padang Bulan, menyatakan tidak habis fikir dengan kondisi ini.

“Kita sudah rasakan pemadaman siang malah malam juga dilakukan. Apa artinya ini. Pemadamannya bukan sebentar tapi hingga empat jam,” ucapnya. Ungkapan kekecewaan konsumen makin bertambah apalagi ketika lampu lalu lintas di berbagai persimpangan kota Medan tidak berfungsi akibat pemadaman.

Waspada
PLN
Senin, 5 November 2005




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: