Standar Pengamanan Kereta Api Masih Rendah

Medan, detikcom – Standar pengamanan sarana transportasi kereta api (KA) masih rendah. Berbagai kasus kecelakaan yang terjadi terutama karena human error dan pemeliharaan sarana yang tidak baik. Pasca sabotase dalam kecelakaan kereta api di Kabupaten Serdang Bedagai, SuKereta Api Anjlokmatera Utara (Sumut), PT Kereta Api Indonesia (KAI) diminta diminta meningkatkan pengamanan itu.

Anggota Komisi VI DPR RI Nasril Bahar menyatakan, terjadinya sabotase pada rel kereta KA Ekonomi Medan – Tanjung Balai di Mata Pao merupakan kasus terakhir yang menunjukkan indikasi tidak amannya jalur transportasi kereta api.

“Semestinya petugas pemantau jalur rel kereta rutin melakukan pengamanan, pemeriksaan jalur. Apalagi ternyata lokasi sabotase itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari stasiun terdekat di Mata Pao. Ini kan sangat memprihatinkan,” kata Nasril kepada wartawan di Medan, Kamis (8/2/2007).

Kecelakaan KA Ekonomi jurusan Medan – Tanjung Balai memang berindikasi sabotase. Sebab di atas rel terdapat lempengan besi sepanjang satu meter lebih. Lempengan itu semula berfungsi sebagai penutup instalasi telepon milik PT Telkom yang ada di samping rel. Namun ada tangan jahil yang membongkar dan meletakkannya di atas rel. Karena melindas lempengan itu, kereta kemudian terguling.

Nasril menyatakan, belum mendapat informasi secara resmi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengenai standar pengamanan jalur kereta api yang dilakukan dewasa ini. Namun semestinya ada solusi untuk setiap persoalan yang dihadapi, termasuk kasus-kasus halang-rintang jalur kereta seperti lempengan besi tadi.

Menurut Nasril, jika persoalannya terletak pada kurangnya sumber daya untuk pengawasan jalur rel kereta api, solusinya menambah personel. Kalau masalahnya di sumber dana, tentu ada langkah taktis yang bisa dilakukan.

“DPR tentu akan bersedia membantu untuk mengatasi persoalan ini. Sekiranya memang harus sampai pada tingkat dewan pembahasannya. Yang penting, jangan lagi ada korban,” kata Nasril yang juga anggota Panitia Anggaran DPR RI.

Disebutkannya, berbagai kecelakaan kereta di Indonesia selama ini sudah lebih dari cukup untuk mengindikasikan kinerja perusahaan yang buruk. Karena di tingkat regulasi semuanya sudah selesai.

“Dalam kasus terakhir, sabotase kereta api di Serdang Bedagai itu, saya berharap pengusutannya harus dilakukan tuntas. Bila perlu pelakunya dijerat dengan kasus terorisme. Karena tindakannya meneror warga yang akan menggunakan moda transportasi murah ini,” kata Nasril.

Kasus-kasus kecelakaan kereta api memang kerap terjadi belakangan ini di Sumut. Pada 24 Juli 2005 KA Sri Bilah menabrak bus di Kisaran, Kabupaten Asahan, yang menyebabkan 9 korban tewas. Pada tahun 2006 tercatat ada tiga kecelakaan. Yakni tabrakan dua kereta api barang di Desa Fortuna, Perbaungan, Serdang Bedagai pada 14 April akibat sistem informasi yang kacau.

Pada 7 Agustus kereta api barang anjlok di Dusun II, Kampung Keling, Kecamatan Sei Rampah, Serdang Bedagai. Sedangkan pada 9 November, dua gerbong kereta api bermuatan premium terguling di Stasiun Dolok Merangir, Kabupaten Simalungun.

Sementara pada tahun 2007 tercatat dua kasus, yakni tabrakan kereta api penumpang dan kereta api barang di Rantau Prapat, Labuhan Batu pada 2 Februari 2007 dengan korban luka puluhan orang, dan terakhir sabotase KA Ekonomi di Mata Pao, Kecamatan Teluk Mengkudu, Serdang Bedagai, yang menyebabkan enam penumpang dan masinis terluka. (rul/djo)

detikcom
Kamis, 8 Februari 2007




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: