Nasril Bahar: Membenahi UKM dari Hulu

Bagi Nasril Bahar, mengurusi persoalan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sama saja seperti mengurusi bidang pekerjaannya sendiri. Dia sudah berkiprah sebagai pelaku UKM sejak lama, dan kini dengan posisinya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), maka pembenahan UKM bisa dilakukan mulai dari hulu.

“Ada banyak persoalan dalam UKM, permodalan hanyalah salah satu dari sekian banyak itu. Tetapi membenahinya juga butuh waktu yang tidak sebentar. Ada kerumitan birokrasi, niat baik pemerintah, maupun kemampuan anggaran,” ujar Nasril saat ditemui di sebuah warung kopi sederhana dekat Bandara Polonia, Minggu (18/2/2007), beberapa saat sebelum dia berangkat ke Jakarta.

Masalah modal memang menjadi persoalan klasik yang dialami pelaku UKM. Nasril juga mengalaminya ketika memulai usaha di bidang garmen, pakaian jadi. Usaha yang berpusat di Pusat Pasar Medan itu, hingga kini masih dilakoninya. Membagi sebagian pikirannya untuk mengurusi dagang, sementara porsi lebih besar memikirkan bagaimana regulasi dan birokrasi bisa berpihak lebih kuat kepada UKM.

Nasril mengemukakan salah satu contoh bagaimana persoalan UKM tidak ditangani secara fokus. Saat ini sebenarnya ada Kementerian Koperasi dan UKM. Secara umum tugasnya memberdayakan agar UKM dan koperasi tumbung-kembang sebagai motor ekonomi dan memiliki daya saing. Namun pada beberapa kementerian lain, UKM juga menjadi sub-sistem. Misalnya di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Departemen Perdagangan dan Industri, serta beberapa kementerian lain.

“Semestinya kementerian lain ya sudah jangan mengurusi UKM. Alihkan saja dana yang dikelola kepada Kementerian Koperasi dan UKM. Jadi fokus. Ada satu menteri yang mengelola lebih banyak anggaran daripada yang ada sekarang, sebab dana dari kementerian lain dialihkan ke sana,” tukas ayah empat anak yang lahir di Medan pada 3 Desember 1964, ini.

Menurut Nasril, yang kini juga duduk sebagai Wakil Ketua Forum Nasional UKM utusan Sumatera Utara, sejumlah anggota DPR sudah sepakat dengan wacana ini. Namun untuk menjadikannya sebagai sebuah regulasi, perlu upaya dan komitmen yang lebih luas lagi, tidak bisa sekedar wacana. Makanya pada tahun 2007 ini setidaknya akan dilakukan sejumlah agenda penting guna menuju ke arah itu. Memfokuskan penanganan UKM pada satu kementerian.

Dana Coorporat Social Responsibility

Pada sisi lain, BUMN yang selama ini menganggarkan dana untuk membantu UKM melalui dana Coorporat Social Responsibility (CSR) atau Community Development (CD), juga diminta untuk berlaku jujur. Menyalurkan dana yang dikelola kepada yang berhak. Tidak ada lagi kong-kalikong, mengucurkan dana untuk kalangan keluarga dekat saja.

“Selama ini kan polanya demikian. Dana miliran rupiah yang bersumber dari persentase atau bagian total keuntungan perusahaan, hanya diberikan kepada para kerabat pengelola dana. Tidak ada penyaluran sebagaimana mestinya,” ujar Nasril yang saat ini duduk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Politik Hukum dan Keamanan, DPP Partai Amanat Nasional (PAN).

Nasril diuntungkan dengan posisinya sebagai anggota Panitia Anggaran DPR maupun sebagai anggota Komisi VI DPR yang membidangi Industri, Perdagangan dan BUMN, Koperasi dan UKM setta Investasi. Dengan posisi ini, upaya yang dilakukannya untuk membenahi UKM bisa dilakukan melalui level yang lebih baik. Tidak sekedar bereaksi, tetapi juga memberi andil langsung dalam upaya membenahi sektor UKM melalui regulasi yang ditelurkan DPR, maupun pendekatan langsung ke jenjang birokrasi.

”Jelas ini bukan pekerjaan mudah. Tetapi Insya Allah, saya akan berupaya keras membantu menangani persoalan ini melalui satu pintu, yakni memfokuskan pendanaan untuk UKM melalui satu kementerian.

Ada beribu pintu lagi sebagai entry point. Rasanya, mustahil jika semuanya bisa saya tangani. Kita berharap kawan-kawan di lembaga yang lain, bisa juga berperan memperbaiki UKM melalui celah pintu yang lain,” ujar Nasril yang duduk di DPR melalui daerah pemilihan Sumut III, yakni Kabupaten Langkat, Binjai, Tanah Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun, Asahan, Kota Siantar dan Tanjung Balai.

Peredaran Makanan dan Minuman Asing

Nasril menyatakan, kendati sedang fokus dengan masalah ini, bukan berarti dia alpa dengan urusan lain. Salah satu yang memprihatinkannya mengenai peredaran makanan dan minuman asing di Indonesia saat ini. Dikatakannya, ribuan produk makanan dan minuman asing yang kebanyakan berasal dari Malaysia, Jepang, China, Korea, Thailand, Taiwan dan beberapa negara Eropa, sudah merajai pasar ritel besar dan ritel menengah dalam negeri. Bahkan, di beberapa daerah, produk makanan dan minuman asing tersebut malah sudah dijajakan oleh peritel kecil.

”Kondisi ini akan negatif bagi masa depan industri makanan dan minuman dalam negeri, apalagi ekspor produk makanan dan minuman kita menghadapi kendala nontarif yang sangat ketat sehingga kebanyakan tidak dapat menembus pasar di negara lain,” tegas Nasril.

Dikatakannya, di Indonesia saat ini terdapat 916.180 industri makanan dan minuman. Rinciannya, 4.648 perusahaan skala menengah dan besar, 77.205 pabrik skala kecil dan 834.327 industri rumah tangga. Industri ini setiap tahunnya rata-rata tumbuh 10 persen dengan omzet tahun 2006 lalu sebesar Rp 235 triliun.

”Ini perlu dijaga eksistensinya. Sebab itu pemerintah harus perlu membentuk sebuah tim yang bertugas menangani pengawasan peredaran makanan dan minuman asing yang terus merajalela di pasar dalam negeri. Pasalnya, intervensi makanan dan minuman asing tersebut akan melalap habis pasar bagi produk lokal. Kalau ini dibiarkan, UKM akan habis,” ujarnya. (k.i. damanik)

Tabloid Pinbis, Medan
Edisi Maret 2007




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: