Disahkannya UU Perkeretaapian

Detikcom edisi hari ini menurunkan berita mengenai disahkannya UU Perkeretaapian oleh DPR yang membuka peran swasta dalam penyelenggaraan pelayanan jasa kereta api. UU tersebut mengatur pemberian subsidi berupa Public Service Obligation (PSO) berapapun besarnya, kepada operator kereta api yang menyediakan kereta api kleas ekonomi.

“Dulu PSO diberikan sesuai dengan kemampuan keuangan pemerintah, tapi berdasarkan UU baru ini, selisih antara biaya tiket kereta kelas ekonomi dengan biaya yang ditetapkan oleh operator, berapapun besarnya akan ditanggung pemerintah,” demikian dijelaskan Dirjen Perkeretapian, Sumino Eko Saputro.

Kita tentu mengharapkan, disahkannya UU Perekeretaapian ini akan memberikan perbaikan kepada layanan transportasi untuk masyarakat. Selama ini sudah sangat sering kita mendengar berbagai berita mengenai kecelakaan kereta api dan hal ini tentu saja menimbulkan keprihatinan. Baru-baru ini saja, kita mendengar bereita Kereta Api Mutiara Timur dari Banyuwangi dengan tujuan Surabaya, menabrak tiga buah mobil dan satu sepeda motor. Saat itu, pintu kereta api tidak tertutup dan sirene tidak berbunyi. Akibatnya tiga orang meningal dunia dan lima orang lainnya luka-luka.

Sebelumnya, Kereta api Rapih Dhoho jurusan Blitar-Surabaya menabrak truk gandeng bermuatan pupuk di desa Sumbergarum, kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, 1,5 km dari stasiun Garum dan di lokasi kecelakaan diketahui tidak memiliki pintu perlintasan kereta api.

Sebagaimana diungkapkan Direktur Eksekutif Indonesian Railway Watch, Taufik Hidayat, faktor penyebab kecelakaan kereta api di Indonesia selama ini antara lain adalah kualitas organisasi perusahaan, pemeliharaan, pelayanan dan keandalan.

Ia menyebutkan pensinyalan, pengadaan kereta api listrik, dan lintasan Jabotabek sudah modern. Sejak tahun 90-an pemerintah telah mengeluarkan dana untuk peremajaan KA sekitar Rp 6 triliun. “Untuk itu partisipasi sumber daya manusia PT KAI selayaknya ditingkatkan. Itu yang paling pokok,” tegasnya.

Sedangkan menurut Kepala Humas PT KAI Patria Supriyosa, penyebab kecelakaan adalah kesalahan teknis dan kesalahan manusia, serta bencana alam. Ia membantah bahwa semua keselahan itu dilakukan oleh internal PT KAI.

“Seringkali kecelakaan di pintu lintasan kereta api disebabkan ketidakdisiplinan pengendara di jalan raya. Menerobos lintasan pintu kereta api,” tandasnya.

Sebaliknya, anggota Komisi VI DPR RI Nasril Bahar menilai, standar pengamanan sarana transportasi kereta api dinilai masih rendah ditandai dengan tingginya kasus kecelakaan terutama akibat “human error” dan sarana yang tidak baik.

Apapun juga, yang jelas, kereta api adalah sarana transportasi yang sangat penting bagi masyarakat, terutama rakyat golongan ekonomi lemah. Untuk itu, pemerintah berkewajiban menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi rakyat.

Indonesian IRIB
Sabtu, 31 Maret 2007




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: