Nasril Bahar: Alur Distribusi Menyalah, Penyerapan Pupuk Bersubsidi di Sumut Rendah

Medan (Medan Pos) – Rendahnya daya serap pupuk bersubsidi di Sumatera Utara (Sumut) ditengarai karena adanya kesalahan dalam sistem distribusi pupuk hingga ke tingkat petani. Faktanya banyak petani tidak mendapat pupuk bersubsidi sehingga terpaksa membeli pupuk dengan harga mahal.

Anggota Komisi VI DPR RI Nasril Bahar menyatakan, kesalahan dalam sistem distribusi merupakan kendala paling umum yang menyebabkan petani tidak mendapatkan porsi pupuk bersubsidi sebagaimana harusnya. Akses petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi sangat sulit.

“Pemerintah provinsi jangan menutup mata terhadap persoalan birokrasi dalam distribusi pupuk bersubsidi ini. Kita mendapat laporan dari distributor, hanya untuk mendapatkan rekomendasi jumlah usulan kebutuhan pupuk di tingkat kabupaten dan kota saja, mereka harus mengeluarkan dana, mereka harus membayar. Itu pengakuan distributor,” kata Nasril Bahar yang dihubungi wartawan dari Medan, Selasa (25/9/2007).

Nasril menyatakan, cukup heran juga dengan kenyataan bahwa sampai Agustus lalu Sumut baru berhasil menyerap 56 persen dari 200 ribu ton pupuk bersubsidi yang dialokasikan untuk provinsi ini. Padahal di sejumlah daerah, petani menyatakan kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Masalah ini terus saja terjadi, dan seolah tidak ada jalan keluar.

“Kita melihat persoalan utama dalam masalah pupuk adalah sistem distribusi. Dari berbagai pertemuan yang kita lakukan di Komisi VI dengan PT Pupuk Sriwijaya, mereka menyatakan sebenarnya stok selalu tersedia di gudang-gudang di setiap daerah. Jadi pupuk itu selalu tersedia sesuai dengan alokasi,” kata Nasril yang berasal dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara III.

Nasril melihat, yang terjadi selama ini ada ketidaksinkronan kerjasama antara pihak-pihak yang berkaitan dengan pendistribusian pupuk. Sebab itu sangat diperlukan komitmen bersama antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kota atau kabupaten dengan distributor agar pupuk yang diterima petani persis seperti yang diharapkan.

“Pendistribusian pupuk itu harus benar-benar tepat jumlah, tepat waktu dan tepat sasaran. Kalau salah satunya melenceng ya, petani yang dirugikan,” kata Nasril Bahar.

Pemerintah pusat, kata Nasril sebenarnya sudah memberikan perhatian yang cukup tinggi dalam masalah pupuk ini. Dana yang dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN relatif besar untuk kebutuhan subsidi pupuk bagi petani. DPR juga selalu memberikan persetujuan pada pertambahan anggaran subsidi untuk pupuk ini dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 subsidi pupuk yang dikucurkan mencapai 6,98 triliiun. Jumlah itu meningkat dibanding tahun 2006 yang sebesar Rp 6 triliun.

“Sementara dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2008, pemerintah menganggarkan dana senilai Rp 8,72 triliun untuk subsidi pupuk, naik sekitar 25 persen dibandingkan Rp 6,98 triliun yang ditetapkan pada RAPBN Perubahan 2007,” kata Nasril.

Medan Pos
Rabu, 26 September 2007




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: