KPPU Diminta Tegas Tindak Dugaan Monopoli Temasek

Medan, WASPADA Online, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) diminta tegas memutuskan kasus dugaan monopoli Temasek Holding dalam industri telekomunikasi tanah air. Dimana Temasek Holding secara jelas telah melakukan praktek cross ownership (kepemilikan silang) di Telkomsel dan Indosat.

Demikian beberapa anggota Komisi VI DPR terdiri dari Nasril Bahar (FPAN), Nusron Wahid (FPG), Zainut Tauhid (FPPP) kepada wartawan di Jakarta, kemarin. Menurut Nasril, sesuai pasal 27 UU No. 5 tahun 1999, jelas disebutkan, pelaku usaha yang menguasai lebih dari 75 persen pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu dinilai telah melanggar prinsip anti monopoli.

temasek.jpgtemasek.jpgBukti atas dugaan prinsip anti monopoli lewat praktik cross ownership yang dilakukan Temasek di Telkomsel dan Indosat sangat jelas terlihat dalam hal pembentukan tarif harga secara sepihak, sehingga merugikan konsumen. Padahal ada perusahaan selular di Indonesia yang menerapkan tarif dua kali lebih murah dibanding dibanding Telkomsel dan Indosat.

“Faktanya lewat kepemilikan silang itu, Temasek dengan seenaknya mematok tarif yang sangat tinggi terhadap pelanggan Telkomsel dan Indosat dibanding operator selular lain,” jelas Nasril.

Soal kebijakan tarif yang merugikan pelanggan, Nasril menilai hasil penyidikan yang dilakukan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) merupakan satu bukti nyata. Di mana BRTI menemukan, ongkos produksi untuk panggilan dan SMS sangatlah kecil sementara tarif yang dikenakan Telkomsel dan Indosat jauh di atas ongkos produksi.

Seperti diketahui, hasil kajian dan pengumpulan data yang dilakukan BRTI, menyimpulkan harga produksi untuk tarif bicara yang dikenakan operator telepon ratarata Rp75. Sementara untuk short message services (SMS) bisa di bawah 50 persen dari tarif bicara tersebut. Bahkan, untuk tarif sesama operator (on net), BRTI menilai bisa dilakukan secara gratis. “Jadi jelas-jelas, praktek cross ownership yang dilakukan Temasek membuat rugi rakyat Indonesia, khususnya yang menjadi pelanggan Telkomsel dan Indosat,” tegas Nasril.

Sementara mengenai praktek cross ownership yang dilakukan Temasek Holding di Telkomsel dan Indosat, menurut Nasril, dilakukan melalui divestasi saham PT Indosat Tbk sebesar 41,94 persen pada 15 Desember 2002 lalu melalui Singapore Technologies Telemedia (STT) yang 100 persen dimiliki oleh Temasek.

Padahal, pada tahun 2002 itu juga Singapore Telecommunication Limited (Singtel)-yang 100 persen sahamnya juga dimiliki Temasek- telah menguasai 35 persen saham PT Telkomsel. “Sehingga dengan menguasai Indosat, Telkomsel, Global Crossing, Pihana Pasific dan Equinix, berarti Temasek menguasai hampir separuh jaringan telekomunikasi dunia,” jelas anggota FPAN ini.

Bahaya lain yang terjadi akibat praktik cross ownership ini, adalah soal dominasi Temasek yang begitu kuat dalam sektor telekomunikasi tanah air. Sebab, dengan menguasai saham Indosat dan Telkomsel, maka Temasek menguasai 81 persen lebih pasar telekomunikasi tanah air. Disamping itu, Temasek juga menguasai pengambilan keputusan di kedua perusahaan telefon selular.

Dijelaskan Nasril, pada shareholder agreement dalam divestasi saham PT Indosat Tbk, disebutkan dalam pemilihan dewan komisaris dan direksi ditetapkan berdasarkan simple majority. Akibatnya, Kementerian Negara BUMN sebagai kuasa pemegang saham seri A atau saham golden share dapat mencalonkan komisaris dan direksi masing-masing satu orang. (m10)

Waspada
Jumat, 8 November 2007




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: