Jaga Eksistensi UMKM dengan Pertahankan Pasar Tradisional

Mencocokkan waktu bertemu anggota DPR RI Nasril Bahar, belakangan ini jelas butuh perjuangan ekstra. Tiap kali dia datang ke Medan, daftar pertemuan sudah demikian panjang, bahkan hingga larut malam. Akhir November lalu, Waspada beruntung dapat waktu yang pas, yakni menjelang dinihari di satu warung nasi goreng di Jalan Pandu Medan.

“Maaf ya, baru sekarang bisa cocok waktunya. Besok pagi saya sudah harus kembali ke Jakarta. Kita nyantai di sini, sekalian mendukung perkembangan UMKM,” kata Nasril membuka pembicaraan.

nasril-bahar-se-fraksi-pan-dprri-web.jpgUsaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi lini kerja Nasril belakangan ini. Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) menempatkannya duduk di Komisi VI DPR bidang Industri, Perdagangan dan BUMN serta Koperasi dan UKM. Selain itu, juga menjadi salah satu anggota Panitia Anggaran DPR.

Bagi Nasril membicarakan UMKM sama saja seperti mengurusi bidang pekerjaannya sendiri. Dia sudah berkiprah sebagai pelaku UKM sejak lama, dan kini memimpin CV Ridho Mandiri, yang bergerak di bidang garment dan berbasis di Medan. Dia kemudian menunjukkan angka-angka statistik yang disimpan di perangkat selulernya. UMKM di Sumut saat ini berjumlah 2.067.000, dengan perincian; usaha menengah 121.770, usaha kecil 596.360, dan usaha mikro 1.370.000 unit.

“Ini merupakan potensi ekonomi yang baik dan kita berharap jumlahnya meningkat,” kata pria kelahiran Medan, 31 Desember 1964 ini.

Hanya saja, masalah UMKM cenderung berkutat di persoalan yang itu ke itu juga. Masalah permodalan, cengkeraman rentenir dan masalah persaingan usaha yang tidak sehat antara pasar tradisional dan pasar modren. Masalah-masalah ini tentu sulit diselesaikan selama komitmen pemerintah hanya di atas kertas. Fakta di lapangan, eksekusi persoalan selalu berbeda dengan rencana.

Nasril kemudian bercerita. selama di DPR sudah beberapa kali dirinya secara pribadi di komisi maupun mewakili Fraksi PAN, meminta pemerintah untuk memberi porsi anggaran yang lebih baik bagi UMKM. Porsi anggaran bidang ekonomi kerakyatan selalu diupayakan meningkat. Jika secara nasional usulan anggaran sudah disetujui, tinggal berupaya mengalirkan sebagian ke Sumatera Utara.

Terakhir, DPR setujui alokasi anggaran sekitar Rp 37 miliar pada tahun 2008 untuk pengembangan pasar tradisional yang dikucurkan melalui Departemen Perdagangan. Dari jumlah itu, Rp 11,1 miliar mengalir ke Sumut. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut sudah mengalokasikan dana itu untuk membangun 7 pasar tradisional, yakni di Tapanuli Tengah, Samosir, Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba Samosir dan Karo.

Pasar Tradisional

Masalah pasar tradisional ini, mendapat perhatian yang besar bagi Nasril. Dia merujuk pada kunjungannya ke pasar-pasar tradisional yang berada di daerah pemilihannya sewaktu mencalonkan diri sebagai anggota DPR, yakni Sumut III yang melingkupi Kabupaten Langkat, Tanah Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun, Asahan, Kota Siantar, Binjai dan Tanjung Balai.

“Kebanyakan kondisinya hampir seragam. Kumuh dan tidak teratur. Dari 519 pasar yang ada di Sumut saat ini, sekitar 40 persen di antaranya mengalami kerusakan. Inilah salah satu sebab mengapa pasar tradisional susah bersaing dengan pasar modren. Sudah begitu, saat ini sangat mudah terjadi penggusuran yang mencampakkan pasar tradisional ke sudut-sudut kota dengan alasan pembangunan,” kata Nasril yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Politik Hukum dan Keamanan, DPP PAN.

“Saya punya catatan hasil survei tahun 2004 yang menyebutkan, meski jumlah pasar tradisional di Indonesia mencapai 1,7 juta unit atau sekitar 73 persen dari keseluruhan pasar yang ada, namun laju pertumbuhan pasar modern ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan pasar tradisonal,” ujar Nasril yang dianugerahi 4 orang anak dari pernikahannya Hj. Kilopatra

Dengan kondisi ini, kata Nasril, maka mau tak mau UMKM harus mendapat proteksi tinggi. Perbaikan pasar tradisional merupakan solusi untuk mempertahankan UMKM. Lokasi pasar modren atau hypermarket pun jangan lagi di tengah kota.

Mumpuni

Pembicaraan dengan Nasril sempat beberapa kali terhenti karena dering telepon. Kendati sudah dini hari, komunikasi tidak pernah terputus. Semua seakan sudah hapal tabiat Nasril yang sering tidur larut. Semua telepon ditanggapi dengan baik. Langsung pada pokok persoalan dan selalu dengan nada riang.

Agaknya, sikap-laku diri yang bersahaja itu pula yang membuat Nasril tetap melekat di ingatan banyak orang. Matang secara politik, mumpuni secara ekonomi, dan bersahaja dalam pergaulan membuat namanya sering dicalonkan untuk beragam posisi. Termasuk menjadi Gubernur Sumut priode mendatang.

Ketika pencalonan Walikota Medan tahun 2005, namanya sempat dibawa dalam rapat sebuah partai besar. Namun Nasril buru-buru menolak, dengan alasan belum masanya. Saat pencalonan Gubernur Sumut mulai menghangat sekarang ini, beberapa SMS menanyakan mengapa dia tidak mendaftar.

Ditanyakan tentang hal itu, Nasril hanya tersenyum. “Wah, saya belum siap menang,” katanya sambil tertawa. Ya, kali ini dia bercanda. (m10)

Waspada
Kamis, 6 Desember 2007




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: