Menanti Kehadiran Perpres Pasar Modern, Jaminan UMKM akan Berkembang Pesat

Pertengahan Oktober 2007 lalu, sejumlah menteri ramai-ramai menjanjikan, pada akhir Oktober Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Pasar Modren. Perpres ini akan melindungi pasar tradisional dari gempuran pasar modren. Nyatanya, sampai sekarang Perpres tak kunjung ditandatangani.

Komisi VI DPR RI yang membidangi Industri, Perdagangan, BUMN Koperasi dan UKM, serta Investasi, termasuk kalangan yang paling getol mendesak lahirnya Perpres. Ada sejumlah nama yang bervokal nyaring. Salah satunya, Nasril Bahar dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN).

Dalam sebuah kesempatan pertemuan dengan Medan Bisnis, pekan lalu, Nasril mengemukakan keheranannya, mengapa Perpres itu seolah terganjal di meja SBY.

“Dalam pertemuan Komisi VI dengan Menteri Perdagangan Mari Pangestu Senin lalu (3/12), masalah ini sudah ditanyakan. Menteri menyatakan, rancangan Perpres itu sudah di meja SBY. Jadi prosesnya tinggal menggoreskan tinta saja, tapi ya begitulah kenyataannya, belum juga sampai sekarang. Padahal sebelumnya SBY yang menugaskan beberapa menteri dalam kabinetnya untuk menyusun Perpres itu,” kata Nasril Bahar.

Nasril berujar, ada banyak hal positif yang diharapkan dengan lahirnya Perpres ini. Terutama karena lebih memberikan jaminan atas eksistensi pasar tradisional serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dengan Perpres ini diharapkan pasar tradisional tidak tergusur oleh pembangunan pasar modren yang terus menjamur. UMKM dapat tetap memiliki ruang usaha yang memadai.

“Makanya kita mendesak agar Perpres segera diteken pada akhir tahun 2007, sehingga pada 2008 sudah bisa dilaksanakan,” kata Nasril.

Poin Penting

Desakan yang disampaikan melalui Menteri Pangestu pekan lalu itu, merupakan desakan ke sekian kalinya. Dalam bahasanya Nasril, “Entah udah cemanalah banyaknya. Udah tiga tahun itu-itu aja yang sering dicakapkan tiap kali rapat komisi dengan menteri.”Ditanyakan tentang alasan mengapa dirinya sangat intens menggawangi masalah ini, Nasril menyatakan, kaitan akhirnya dengan Sumut juga. Dia terpilih menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Sumut III, Kabupaten Langkat, Tanah Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun, Asahan, Kota Siantar, Binjai dan Tanjung Balai.

Sebagai perwakilan dari Sumut, maka isu-isu ekonomi nasional yang muncul di Komisi VI selalu diupayakan agar dapat juga menyentuh situasi di Sumut. Nasril yang juga salah satu dari 53 anggota Panitia Anggaran yang dipilih dari 550 anggota DPR, turut berusaha menggiring agar dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa mampir lebih banyak bagi Sumut.

Dalam kaitan Perpres Pasar Modren tadi, kata Nasril, di Sumut regulasi ini akan melindungi pala pelaku UMKM. Kondisi pasar tradisional yang remuk-redam dihadang pasar modren harus segera dihentikan. Di Medan, kondisi itu terlihat nyata. Nasril mencontohkan bagaimana Mall bisa berdiri satu komplek dengan Pusat Pasar, demikian juga pasar Aksara. Sementara di Plaza Medan air berdiri hanya beberapa ratus yang tak begitu jauh dari pasar tradisional di belakangnya. Jadi dengan lahirnya Perpres itu, pelaku UMKM dan pedagang di pasar tradisional di Sumut juga akan terbantu.

“Ini semua masalah. Pasar modren seperti mall, plaza dan beragam jenis hypermarket mestinya paling tidak berjarak sekitar dua kilometer dari pasar tradisional. Lebih jauh dari itu lebih baik. Sekarang ini kan tidak,” katanya.

Sebenarnya, kata Nasril, dalam master plan setiap kota umumnya hal ini sudah diatur. Di mana komplek perkantoran, pusat perdagangan, industri dan lokasi pemukiman. Masalahnya, perubahan gampang terjadi dengan beragam sebab. Kepentingan maupun hutang politik kepala daerah, sering menyebabkan aturan ini bukan lagi sesuatu yang harus dipandang penting jika berhadapan dengan pemilik modal.

Nah, Perpres Pasar Modren diharapkan akan mengatur zona pasar modren itu secara lebih tegas. Sehingga kehadiran pasar modren di suatu lokasi tidak mematikan pasar tradisional yang sudah ada sebelumnya.

“Selama ini aturan soal zona pasar modren ini memang ada melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perdagangan. Tapi sudah belasan tahun tidak ditegakkan. Apalagi di masa otonomi daerah ini. Maka Perpres harus menjadi dasar aturan yang mengikat kepala daerah dalam mengizinkan pembangunan pasar modren di wilayahnya,” ujar pria kelahiran 31 Desember 1964 ini.

Nasril mengingatkan logika berpikir terbalik yang sering diucapkan sejumlah kepala daerah. Kehadiran satu pusat perbelanjaan dinyatakan akan memberikan lapangan pekerjaan dan peluang usaha yang lebih besar. Faktanya, kehadiran sebuah pusat perbelanjaan yang baru, akan mematikan pusat perbelanjaan yang lama. Di Medan, hal itu terliat nyata. Olympia, dan Perisai Plaza sudah kolaps, dan Deli Plaza tinggal menghitung hari.

“Itu sesama hypermarket, bagaimana pula dengan pasar tradisional?” ujarnya.

Dalam kaitan upaya melindungi pasar tradisional ini, Nasril merujuk cara Thailand. Negara ini membuat Royal Decree for Retail Act (Undang-Undang Ritel). Selain detail dan jelas, regulasi ini sangat memerhatikan ritel lokal dan kecil. Semua diatur. Mulai dari zona, harga barang, jenis ritel, hingga jam buka. Untuk lokasi usaha, aturan ini membaginya dalam lima zona usaha. Zona 1, 2, 3 yang paling padat hanya diperuntukkan untuk warung tradisional, grosir dan supermarket. Sedangkan shopping center, superstores, atau hypermarket hanya dibolehkan berada di zona 4 dan 5, yaitu daerah dengan arus lalu lintas tidak padat.

“Kalau kita kan tidak. Di mana ada pusat keramaian, di situ hypermarket di bangun. Di sebelah kantor Walikota pun tak mengapa. Kalau jalan jadi macet, tinggal pindahkan kemacetan melalui mengalihan jalan. Ini logika berpikir yang kacau,” ujar Nasril sambil tersenyum.

Medan Bisnis
Rabu, 12 Desember 2007




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: