PTPN IV Jangan Rumahkan Pekerja dengan Alasan Rugi

Simalungun (Waspada) – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV diminta mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk mengurangi kerugian yang terjadi sektor perkebunan teh. Namun opsinya jangan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan buruh harian lepas (BHL) maupun pekerja pekerja padat karyanya.

Pernyataan ini disampaikan anggota Komisi VI Bidang BUMN DPR RI menanggapi pertanyaan sehubungan dengan kerugian hingga Rp 65 miliar dari komoditas teh yang dialami PTPN IV selama tahun 2007.

“Tentu ada efisiensi yang bisa dilakukan. Namun apapun itu, jangan sampai merumahkan para pekerjanya justru menjadi opsi utama,” kata Nasril Bahar kepada wartawan di Simalungun, Minggu (6/1).

Sebelumnya Direktur Utama PTPN IV Dahlan Harahap dalam sebuah pemberitaan di media massa menyatakan, beban tenaga kerja di kebun teh perusahaan tersebut relatif besar. Pasalnya untuk memetik daun teh di lahan perusahaan itu yang luasnya kini 5.396 hektar, belum menggunakan tenaga mesin. Sementara penghasilan yang diperoleh dari penjualan tidak sepadan dengan biaya operasi.

Dikatakan Nasril, kondisi perburuhan sejauh ini masih memprihatinkan. Dengan angka pengangguran yang meningkat dan angka kemiskinan juga terus meningkat, maka jika opsi untuk menekan kerugian di sektor perkebunan teh adalah mengurangi pekerja padat karya-nya, maka langkah itu hanyalah menambah angka kemiskinan dan menambah angka kemiskinan. Sebab menyangkut banyak orang.

“Perlu terobosan-terobosan ekstrim yang dilakukan PTPN VI untuk menekan kerugian itu. Ini penting dilakukan agar perusahaan ini kinerjanya baik. Apalagi rencananya perusahaan akan diprivatisasi,” kata Nasril.

Salah satu solusi yang ditawarkan Nasril, perlunya rekayasa industri untuk komoditi teh ini. PTPN IV tidak hanya terpaku pada komoditi setengah jadi. Melainkan mengelola komoditi teh itu mulai dari hulu hingga hilir.

“Dengan demikian, tenaga kerja yang tersedia bisa dialihkan ke industri yang dibuat di hilir,” ujar Nasril Bahar.

Untuk pembangunan industri di hilir, kata Nasril, jelas membutuhkan investasi besar. Namun hal ini bisa diatasi dengan menjalin kerjasama dengan mitra strategis. Dengan demikian kerugian yang dialami di hulu bisa disubsidi silang dengan keuntungan dari sektor hilir.

“Jangan pula nanti, hulu dan hilir merugi. Kalau begini sudah sulit,” ujar Nasril.

Sebenarnya masalah kelebihan tenaga kerja ini, kata Nasril, tidak hanya dialami PTPN IV, tetapi juga perusahaan perkebunan milik negara yang lainnya di Tanah Air. Kesalahan manajemen pada masa lalu, adaptasi teknologi yang lemah serta nepotisme yang banyak terjadi menyebabkan tenaga kerja demikian banyak. Melebihi kebutuhan yang ada.

“Pengecualian memang pada sektor buruh harian lepas, karena memang membutuhkan tenaga lapangan yang banyak. Nah, di saat sebagian kebun sudah tidak produktif atau terjadi konversi lahan dengan komoditi lain yang tidak membutuhkan banyak tenaga kerja, masalah kelebihan tenaga kerja terjadi,” ujar Nasril Bahar yang merupakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumut III. (m10)

Waspada
Senin, 7 Januari 2008




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: