Nasril Bahar, Ingin Bermanfaat Bagi Orang Lain

Anggota Komisi VI DPR RI periode 2004-2009 ini lahir dan besar di Kota Medan. Meski mengaku tak punya banyak prestasi di bangku sekolahan, dia merupakan seorang pengusaha konveksi yang terbilang sukses. Pria ramah yang suka berorganisasi ini merintis usahanya dari bawah. Sambil kuliah dia menjalankan usahanya yang terus bekembang hingga saat ini.

Diinspirasi oleh idolanya Amien Rais, dia pun terjuan ke dunia politik. Niatnya adalah ingin berbuat dan memberi manfaat kepada orang lain. Tak heran meski sempat ditawari jadi caleg pada Pemilu 1999, dia menolak. Dia baru bersedia dicaleg-kan pada Pemilu 2004 yang megantarnya ke Gedung DPR RI di Jakarta.

Kenapa bisa terjun ke dunia politik, ada keluarga yang politisi?

Keluarga memang tidak ada yang politisi, latar belakang keluarga saya adalah pedagang. Saya ingat, waktu Tsanawiyah (setingkat SMP), saya sangat ingin jadi ulama atau ustadz pemberi tausiyah kepada umat. Cita-cita saya sendiri ingin menjadi pengusaha muslim yang baik. Setelah Tsanawiyah terus ke SMA negeri. Ketika SMA saya tidak punya prestasi belajar, tapi saya aktif di organisasi, di OSIS. Saya memang senang berorganisasi. Ini juga, salah satu pendorong saya dekat dengan dunia politik.

Ada hal mengesankan ketika SMA itu. Kalau tak salah saat itu Pemilu tahun 1982, saya cabut sekolah untuk ikut kampanye partai Islam yang ada saat itu. Seminggu kemudian, guru saya bertanya mengapa saya cabut, saya bilang karena kampanye. Kemudian guru saya itu mengatakan, partai itu semua kotor dan tidak baik karena mempunyai siasat tak baik dan agama itu bersih. Ketika itu nurani saya menolak. Ketika itu, saya ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakannya tidak benar. Ini yang terus membekas.

Kalau keterlibatan di dunia usaha, bagaimana ceritanya?

Ketika kuliah, saya aktif di organisasi. Kemudian sambil kuliah saya berwiraswata. Mula-mula saya dengan orangtua. Setelah tiga tahun, saya mandiri sendiri dengan mendirikan usaha konveksi. Alhamdulilah usaha tersebut berkembang dan sampai saya punya karyawan ratusan orang ketika saya kuliah itu.

Sampai saat ini usaha tersebut masih terus eksis. Langsung atau tidak langsung, yang kita nafkahi sebagai karyawan pekerja, hampir seribuan orang, baik Medan atau di Jakarta.
Ketika merintis usaha koveksi ini, saya bisa lebih mudah karena orangtua saya cukup dikenal sebagai penjual alat-alat konveksi. Saya jadi tidak kesulitan ketika mencari bahan baku. Semua saya kerjakan sambil kuliah. Ketika tamat kuliah, saya makin fokus mengembangkan usaha. Pada tahun 1998-an, usaha saya berkembang pesat, ya kemudian sempat kendor sedikit saat krismon, tapi bisa pulih lagi sampai saat ini. Kuncinya adalah kesungguhan, ketekunan dan kejelian menangkap peluang.

Kenapa memilih PAN?

Saat kran demokrasi itu dibuka pasca jatuhnya rezim orde baru, muncul satu partai reformis yang didirikan oleh idola saya Amien Rais. Dia tokoh luar biasa berani, di saat tidak ada satu pun orang berani berkata beda dengan penguasa di masa itu, dia berani bersuara lantang menentang Soeharto. Dia yang banyak menginspirasi saya. Maka saat itu saya putuskan melangkah bersama Amien Rais. Dia merupakan salah seorang idola saya.

Ketika itu, saya terpanggil untuk terlibat dalam pengembangan PAN di Sumut. Saya benar-banar ingin mengabdi memberikan kabaikan kepada orang lain. Saya juga ingin berbuat bagi kebaikan bangsa dan masyarakat ini. Makanya saat ada pencalegan tahun 1999, saya sengaja tak ikut karena niat saya benar-benar ingin membesarkan partai dan memberikan kebaikan kepada masyarakat. Saya baru ikut mencaleg ketika 2004 itu setelah didorong oleh teman-teman.

Apa prinsip hidup Anda?

Sebaik-baik manusia adalah orang paling banyak manfaat kepada orang lain. Ini motto saya. Ini yang selalu pegang dan bawa, baik dalam berbisnis maupun berpolitik. Sejauh mana partai kita memberi manfaat kepada masyarakat.

Apa sudah maksimal dalam memberi manfaat kepada orang lain itu?

Kalau bagi saya pribadi, saya merasa sudah maksimal. Cuma dalam berpolitik, terkadang manfaat itu kan baru diraskan di kemudian hari oleh masyarakat. Apalagi dalam kondisi krisis saat ini, masyarakat mungkin kurang merasakannya. Memang ukurannya sangat relatif.

Kalau prinsip-prinsip dalam berbisnis?

Pertama, dalam bisnis ini, apa yang kita berikan kepada konsumen harus bermanfaat. Kedua, bagaimana bisnis itu menguntungkan bagi kita dan ketiga, yang kita bisniskan tidak dilarang agama. Jangan sampai kita bersubahat dalam berbisnis.

Anda memegang agama dalam bisnis ya?

Saya memang sejak memulai bisnis saya pada tahun 1988, setiap tahun tidak saya lihat berapa untung saya. Tapi yang saya lihat adalah apakah infak dan sedekah saya ada mengalami kenaikan. Kenapa? Karena lewat infak dan sedekah ini lah yang manfaaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga yang membutuhkan.

Selama berbisnis, pernah punya pengalaman spiritual yang unik?

Saya punya pengalama spiritual unik dalam bisnis ketika tahun 1995. Kata-kata orang, kalau Anda masih banyak utang janganlah naik haji. Tapi ketika itu saya memaksakan diri untuk naik haji. Saya berangkat naik haji bersama ibu saya. Ketika itu utang saya memang cukup banyak, walau kalau dibandingkan dengan aset saya, masih lebih besar aset saya.

Ketika pulang haji, alhamdulillah, kendala-kendala yang saya rasakan, yang sebelumnya sangat sulit saya pecahkan, bisa teratasi dan lancar-lancar saja. Saya merasakan semua lapang saja dan semua persoalan yang bisa kita lalui.

Pada saat naik haji itu pula saya merasakan kenikmatan melayani orangtua. Saat itu saya betul-betul melayani orangtua selama 24 jam penuh selama 40 hari dan dalam kondisi di tengah perjalanan. Itu saya rasakan tidak ada yang bisa mengimbangi kenikmatannya. Kita jaga semua kebutuhannya, mulai makannya sampai kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya, ibadahnya dan saat tawaf kita lindungi. Itu nikmat sekali, menjaga orangtua. Sementara kondisnya tidak sehat sepenuhnya. Kondisi tersebut tak akan kita jumpai dalam kondisi sehari-hari. Itu perjalanan spiritual yang tak terlupakan.

Apa sih beda dan persamaan dunia politik dan dunia usaha?

Kalau dunia usaha, melakukan aktivitas usaha yang bagaimana kita memuaskan konsumen dan kita mendapatkan laba. Kalau dunia politik beda, sebuah kebijakan politik, yang dihasilkan, terlepas apakah kebijakan itu menguntungkan atau kurang bermanfaat kepada publik, tetapi bagi seorang politisi itu merupkan sebuah kemenangan atau kepuasan karena bisa menggolkan kebijakan itu. Perlu diingat juga kebijakan hari ini bisa jadi manfaatnya baru dirasakan 10 tahun akan datang.

Kalau persamaannya, ya dunia usaha dan dunia politik sama-sama bagaimana kita memberikan kepuasan kepada konsumen atau publik.

Sebagai anggota dewan, bagaimana Anda menyikapi suara-suara negatif terhadap para anggota DPR?

Politisi ini kan macam seorang pejuang. Seorang pejuang, walaupun dicaci maki, apapapun yang dikatakan kepada mereka, pertam mereka harus sabar dan yang kedua, sebagai politisi menyakini suatu saat masyarakat pasti akan memahami langkah yang mereka tempuh.

Jadi Anda tak merasa terganggu dengan opini negatif itu?

Saya tidak pernah merasa terganggu. Kenapa? Karena kalau waktu yang saya habiskan dalam melaksankan tugas-tugas di DPR, tidak sebanding hasilnya secara material bila waktu itu saya habiskan untuk mengurus usaha. Penghasilan dari dunia usaha itu kan jauh melebihi penghasilan politisi.

Kemudian, semua pendapatan saya dari anggota dewan itu termasuk tunjangan-tunjangannya, hanya saya bawa pulang sekitar 30 persan saja. Sisanya saya kembalikan kepada masyarakat untuk pembinaan konstituen dan bantuan-bantuan lain. Jadi hanya 30 persen yang saya bawa pulang untuk kebutuhan anak istri saya.

Kalau boleh saya jujur, malah pendapatan rata-rata dari anggota dewan itu tak mencukupi untuk membina konstituen saya. Setiap bulannya masih saya subsidi dari perusahaan saya.

Kalau tak menguntungkan kenapa mau berpartai?

Ini perkara kepuasan. Politik bagi saya lebih mengedepankan emosional kita, rasional kita di bawah. Bahkan terkadang saya juga tak bisa menjawab apa yang saya kejar di dunia partai politik. Setidaknya, saya tetap mengikut platform partai saya, visi dan misi partai. Saya hanya ingin bisa berbuat memberi manfaat kepada orang lain.

Masih ada keinginan jadi ulama atau ustadz?

Tentu masih. Karena sampai saat ini tak terealisir, saya sekolahkan anak saya ke pesantren. Kalau saya tidak bisa, ya setidakny anak saya yang bisa jadi ustad atau ulama. Keinginan saya untuk bisa berbicara memberikan tausiyah kepada masyarakat masih sangat besar.
Saya memang terpola dengan orangtua. Di samping pedagang, orangtua saya itu ustad. Kalau ada agenda ceramah, dia akan tutup tokonya walau saat itu masih banyak pembeli. Dia rela meninggalkan tokonya dan berceramah padahal ceramah itu hanya pengabdian baginya.

Biodata Singkat

Nama Lengkap: H Nasril Bahar SE
Tempat dan Tanggal Lahir: Medan, 31 Desember 1964
Pekerjaan:
1. Direktur CV Ridho Mandiri Garment
2. Anggota Komisi VI DPR RI
Pendidikan:
Sarjana Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumut (UMSU)
Pengalaman Organisasi:
1. Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumut (1998-2006)
2. Ketua Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Sumut (2002-2006)
3. Wakil Ketua DPD PAN Kota Medan (1999-2000)
4. Wakil Ketua DPW PAN Sumut (2000-2005)
5. Wakil Sekjen Badan POLHANKAM DPP PAN (2005-2009)
Istri: Hj Dra Kilopatra
Anak:
1. Muhammad Faisal
2. Imam Firdaus
3. Dina Kharina
4. Muhammad Rais Haq
Alamat Rumah:
Jalan Sakti Lubis No 416 Sitirejo Medan Amplas

Harian Global

Senin, 21 Januari 2008




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: