Anggota DPR RI, Nasril Bahar, Kasus Trafficking di Sumut Harus Ditelusuri Tuntas

Medan, (Medan Pos) – TERBONGKARNYA sindikat perdagangan wanita yang dikirim ke Malaysia sebagai pelayan seks dan ditangkapnya lima orang tersangka, diantaranya suami istri warga Negara Malaysia, tiga wanita asal P.Siantar dan Asahan yang sudah mendekam di RTP Mapoldasu. Kini, Poldasu terus melakukan penyidikan sekaligus melakukan koordinasi dengan pihak keamanan Malaysia.

Demikian dijelaskan Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol.Drs. Aspan Nainggolan didampingi Direktur Reskrim Poldasu Kombes.Pol.Drs.Ronny F Sompie SH,MH kepada wartawan, Senin (4/1).

Dikatakan Aspan Nainggolan, koordinasi yang dilakukan Poldasu dengan aparat keamanan Malaysia bertujuan untuk membongkar sindikat perdagangan dan sekaligus sebagai tindak lanjut koordinasi pengamanan dalam membrantas trafficking (penjualan wanita).

Disebutkannya, sesuai data yang diperoleh Poldasu berdasarkan hasil pengungkapan bahwa wanita Indonesia telah banyak dijual ke Malaysia sebagai pelayan seks. Karena itu, Poldasu akan berusaha memutus mata rantai sindikat penjualan wanita tersebut.

Ditelusuri Tuntas

Secara terpisah, terkait dengan kasus trafficking tersebut, Anggota DPR RI asal Sumut, Nasril Bahar,SE mengemukakan, kasus-kasus trafficking di Sumut sangat memprihatinkan. Pada satu sisi kemiskinan menjadi penyebab, namun para korban justru dimanfaatkan pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk menarik keuntungan.

“Di Sumut sudah ada Perda No 5 dan No 6 Tahun 2004 yang dimaksudkan untuk mengatasi masalah pekerjaan terburuk bagi anak, dalam perda ini ada banyak pihak yang dilibatkan untuk mengatasi persoalan. Kita minta semua pihak menunjukkan kinerjanya. Jadi perda itu tidak hanya garang di atas kertas,” kata Nasril Bahar yang juga Wakil Sekretaris DPP PAN, ketika dihubungi Medan Pos melalui telepon selular, Senin (4/2).

Pada sisi lain, kata Nasril, ada banyak regulasi secara nasional seperti UU mengenai perlindungan anak dan sebagainya, termasuk yang merupakan ratifikasi dari konvensi PBB. Semuanya berupaya mengatasi persoalan ini, dan memberikan ancaman hukuman yang seberat-beratnya bagi para pelaku.

“Tapi kita melihat, penerapan hukum ini yang belum berjalan. Sehingga pelaku masih sering dihukum ringan. Padahal mengungkap kasus trafficking ini saja sudah sulit, tapi begitu pelakunya tertangkap, kok malah dihukum ringan,” ujar Nasril Bahar.

Pihak kepolisian juga diminta untuk melakukan terobosan-terobosan dalam upaya mengungkap masalah perdagangan anak ini. “Kasus-kasus perdagangan anak yang muncul di permukaan saat ini, hanyalah sebagian kecil saja. Fenomena gunung es juga berlaku untuk masalah perdagangan manusia ini. Sedikit yang berhasil diungkap, tetapi kasus yang terjadi sebenarnya sangat banyak,” kata Nasril.

Medan Pos
Selasa, 5 Februari 2008




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: