Archive for May, 2008

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) melakukan Safari Kebangsaan dengan menonjolkan Merah Putih, yang dinilainya mulai akan luntur dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mengalami ancaman separatisme.

“Kita dorong sekarang Indonesia dalam bingkai NKRI,” minta Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir di hadapan ribuan massa PAN Kota Pematang Siantar, tokoh masyarakat dan tokoh agama di Pendopo Jalan Kartini Kamis (15/5) sore dalam rangkaian Safari Kebangsaan ‘Bangkit Indonesiaku Bersama Soetrisno Bachir.”

Rombongan Ketua Umum DPP PAN, antara lain anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI H Nasril Bahar SE, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Sumatera Utara (Sumut) Ir. Kamaluddin Harahap MS, Ketua Fraksi PAN DPRDSU Drs. Ibrahim Sakty Batubara, Ketua Umum BM PAN Riski Sadiq Ketua DPW Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Sumut Zulkifli Husein SE, dan lainnya disambut Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Pematang Siantar Drs. H. Imal Raya Harahap beserta pengurus dan anggota PAN di sekitar Makam Pahlawan.

Selanjutnya rombongan Ketua DPP PAN diarak naik becak khas Pematang Siantar dengan kap terbuka sampai ke pendopo. Menurut Soetrisno Bachir, hasil survei menyebutkan partai politik (Parpol) membuat sengsara rakyat, namun PAN harus mulai berbuat jangan sampai berbagai suku di Indonesia tercerai berai dari Sabang sampai Merauke.

“Buat persiapan-persiapan menuju penyelamatan. Saya tidak mempunyai pretensi tentang hal itu, tapi hidup memang adalah perbuatan. Partai memang sebagai pilar demokrasi, tapi partai bukan tempat cari kekuasaan atau merebut kekuasaan. Namun, sebagai pelayan memberi solusi mengatasi masalah.”

Soetrisno Bachir mengajak seluruh elemen dan komponen masyarakat agar nilai-nilai kebersamaan dan kebangsaan harus ditanamkan dengan membingkai rapat kembali persaudaraan.

“Kadang-kadang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) bisa memicu konflik horizontal dan PAN harus berdiri di depan mendukung akidah perdamaian dan memberikan solusi kebangsaan.” Semua kader PAN, tegas Soetrisno Bachir, bila ingin menjadi wakil rakyat harus turun ke rakyat hingga bila rakyat sakit, para kader harus turut merasakan sakit yang dialami rakyat, kalau minyak tanah langka dan mahal, harus dicari solusi mengatasinya hingga rakyat dapat menikmatinya.

“Kita jangan putus asa meski harga bahan bakar minyak (BBM) naik, jangan sampai terjadi kekacauan dalam rumah tangga dan partai akan memperjuangkan agar harga minyak tidak naik. Kita harus bangkit, rakyat harus bangkit mengatasi persoalan keluarganya.”

Menurut Soetrisno Bachir, Indonesia baru dalam bayangan semua orang yang anak-anaknya tidak dibiayai sendiri, tapi dibiayai negara, yang kesehatannya seperti negara Malaysia dan Singapura dibiayai negara.

“Investasi boleh masuk, tapi keuntungan kita harus didahulukan, Indonesia baru harus penuh optimisme. Kita negara kaya, tapi rakyatnya miskin, karena banyak. Itulah yang mendorong saya melakukan safari keliling Indonesia untuk merubah cara berpikir ke arah yang positif.”

Pada kesempatan itu, Soetrisno Bachir meminta bila tidak menyukai lagi pemerintahan saat ini, ada kesempatan tidak memilihnya lagi pada pemilihan berikutnya, begitu juga bila tidak suka lagi dengan satu partai, jangan dipilih lagi pada pemilihan berikutnya dengan cara jangan sampai merusak apa yang ada saat ini. Pada kesempatan itu, beberapa warga PAN dan tokoh masyarakat yang hadir menyampaikan berbagai keluhan mereka tentang keadaan saat ini dan keinginan mengetahui pribadi Soetrisno Bachir.

“Saya datang memberi manfaat bagi rakyat dan keinginan saya agar rakyat memiliki semangat kemandirian. Saya berusaha membantu agar rakyat bisa bangkit dan mendorong kewirausahaan. Seperti saya sendiri, saya mengharapkan kita memiliki semangat kerja keras, kerja tegas dan kerja ikhlas.”

Usai Safari Kebangsaan di Pematang Siantar, di antaranya memberikan bantuan uang pembinaan kepada grup marhaban, rombongan Ketua Umum DPP PAN itu segera berangkat menuju kota wisata Parapat, Kab. Simalungun untuk berdialog dengan para tokoh masyarakat nelayan dan para kader PAN Simalungun dan Tobasa di pelataran Hotel Niagara.

Jumat hari ini, rombongan berkunjung ke pasar-pasar tradisional di Kab. Batubara. Sebelumnya Soetrisno Bachir mengunjungi Panti Asuhan Al Washliyah di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Di sana, Soetrisno dan rombongan menyapa para penghuni dan melakukan dialog dengan anak-anak panti. Kemudian memberi bantuan pembangunan asrama panti sebesar Rp50 juta. Di Serdang Bedagai, Soetrisno Bachir membuka Soetrisno Cup di Lapangan Pangkalan Budiman, Kampung Pon. Di sana Soetrisno Bachir menyerahkan bola kepada wasit.

Lintas Berita
Jumat, 16 Mei 2008

Advertisements
Sei Rampah, Sumut (Berita): Orang nomor satu dari Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir mengaku ingin menjadi seorang pemimpin di negeri ini tetapi bukan Presiden.

“Saya memang ingin menjadi pemimpin bangsa, tapi jangan dikonotasikan ingin menjadi seorang presiden,” ujarnya saat berada di rumah salah seorang tokoh masyarakat Jawa di Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagei, Sumut, Kamis [15/05] .

Menurut dia, saat ini Indonesia krisis ketokohan yang bisa dijadikan panutan dan memberi semangat pada anak bangsa untuk bangkit dari keterpurukan dengan mengambil momentum memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional.

Oleh karena itu untuk memberikan semangat pada anak bangsa ia pun rela menghabiskan biaya yang cukup besar untuk beriklan di media massa dengan semboyan hidup adalah perbuatan dan melakukan safari kebangkitan nasional ke sejumlah ke daerah-daerah

Dia menuturkan, dewasa ini sebagian besar anak bangsa dinegeri ini menatap masa depan dengan apatis, skeptis dan pesimis dan menatap masa depan negara ini akibat berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa ini seperti kenaikan BBM melalui pemberitaan media massa.

Padahal masih banyak potensi di negeri ini seperti sumber daya alam terutama di sektor pertambangan, kelautan dan perikanan serta pertanian yang belum dimaksimalkan potensinya.

“Saya khawatir dengan banyaknya masalah bangsa dengan kebijakan pemerintah yang tidak merakyat dewasa ini membuat mental dan energi anak bangsa menurun. Padahal kita masih punya potensi yang besar untuk bangkit dari keterpurukan,” katanya.

Dia juga mengatakan, menjadi pemimpin tidak mesti harus menjadi seorang pemimpin sebagai mana yang dicontohkan tokoh dari India Mahatma Gandhi.

Selain itu berdasarkan pengakuan istrinya, Bachir mengaku tidak cocok untuk menjadi seorang Presiden.

“Kata isteri saya, saya tidak cocok jadi Presiden karena terlalu banyak ‘make up’nya. Kalau jalan kesana kemari harus senyum, kemudian nanti kalau anda-anda mau ketemu juga susah,” ujarnya dengan senyum.

Tebar Pesona

Menjelang pemilihan Presiden (Pilpres) 2009, orang nomor satu dari Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir mulai melakukan tebar pesona yang “dibalut” dengan safari kebangkitan nasional.

Sesaat Ketua Umum DPP PAN itu tiba di Sumut pada Rabu, (14/5) petang ia melakukan pertemuan dengan puluhan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dan nelayan di Sumut yang berlangsung di Istana Maimon Medan pada malam harinya.

Kemudian pada Kamis, (15/5) ia melakukan serangkaian kegiatan di Sumut seperti menyerahkan bantuan ke Pantai Asuhan Al Jamiatulwasliyah di Lubuk Pakam, Deli Serdang, membuka turnamen sepakbola Soetrisno Bachir Cup dan berdialog dengan masyarakat Jawa di Sei Rampah, Serdang Bedagei dan mengunjungi Pasar Tradisional Cong A Fie di Kota Tebing Tinggi.

Sewaktu mengunjungi pasar ini Soetrisno Bachir yang didampingi anggota Komisi VI DPR yang juga Juru Bicara FPAN Nasril Bahar sempat membeli sejumlah perlengkapan seperti tas, handuk dan peci hitam.

Kemudian sesaat sebelum mengakhiri kunjungannya di pasar itu ia juga menyempatkan diri memborong makanan khas di daerah itu yakni kue lemang dan tape ketan hitam dari pedagang kaki lima.

Ketika menikmati penganan dari pulut itu Ketua DPP PAN itu juga sempat bercengkerama dan foto bersama dengan masyarakat yang kebetulan berada di pasar itu dan pedagang setempat.

Namun sebelumnya Soetrisno menolak yang dilakukan dalam sebulan terakhir seperti beriklan di televisi untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini melalui pilpres 2009.

“Saya memang ingin menjadi pemimpin bangsa, tapi jangan dikonotasikan ingin menjadi seorang presiden,” ujarnya saat berada di rumah salah seorang tokoh masyarakat Jawa di Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagei.

Hal yang sama juga diungkapkan Juru Bicara FPAN di DPR Nasril Bahar. “Apa yang dilakukan PAN saat ini seperti iklan Pak Soetrisno di televisi dan media cetak dengan memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional murni mengubah citra, bahwa masih ada partai politik yang peduli dengan rakyat,” ujarnya. (ant)

Berita Sore
Jumat, 16 Mei 2008

Kapanlagi.com – Menjelang pemilihan Presiden (Pilpres) 2009, orang nomor satu dari Partai Amanat Nasional (PAN), Soetrisno Bachir, mulai melakukan tebar pesona yang “dibalut” dengan safari kebangkitan nasional.

Ketua Umum DPP PAN itu tiba di Sumut pada Rabu (14/5) petang dan melakukan pertemuan dengan puluhan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dan nelayan di Sumut yang berlangsung di Istana Maimon Medan pada malam harinya.

Kemudian pada Kamis (15/5) ia melakukan serangkaian kegiatan di Sumut, seperti menyerahkan bantuan ke Pantai Asuhan Al Jamiatulwasliyah di Lubuk Pakam, Deli Serdang, membuka turnamen sepakbola Soetrisno Bachir Cup dan berdialog dengan masyarakat Jawa di Sei Rampah, Serdang Bedagei dan mengunjungi Pasar Tradisional Cong A Fie di Kota Tebing Tinggi.

Sewaktu mengunjungi pasar ini Soetrisno Bachir yang didampingi anggota Komisi VI DPR yang juga Juru Bicara FPAN, Nasril Bahar, sempat membeli sejumlah perlengkapan seperti tas, handuk dan peci hitam.

Kemudian sesaat sebelum mengakhiri kunjungannya di pasar itu ia juga menyempatkan diri memborong makanan khas di daerah itu, yakni kue lemang dan tape ketan hitam dari pedagang kaki lima.

Ketika menikmati penganan dari pulut itu Ketua DPP PAN itu juga sempat bercengkerama dan foto bersama dengan masyarakat yang kebetulan berada di pasar itu dan pedagang setempat.

Namun, sebelumnya Soetrisno menolak yang dilakukan dalam sebulan terakhir seperti beriklan di televisi untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini melalui pilpres 2009.

“Saya memang ingin menjadi pemimpin bangsa, tapi jangan dikonotasikan ingin menjadi seorang presiden,” ujarnya saat berada di rumah salah seorang tokoh masyarakat Jawa di Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagei.

Hal yang sama juga diungkapkan Juru Bicara FPAN di DPR, Nasril Bahar.

“Apa yang dilakukan PAN saat ini seperti iklan Pak Soetrisno di televisi dan media cetak dengan memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional murni mengubah citra, bahwa masih ada partai politik yang peduli dengan rakyat,” ujarnya. (kpl/rif)

kapanlagi.com
Kamis, 15 Mei 2008

Jakarta – Bertepatan 10 tahun Orde Reformasi, Amien Rais yang dikenal sebagai tokoh reformasi menuangkan kritik-kritik pedasnya dalam sebuah buku. Buku berjudul ‘Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!’ pun diluncurkan.

Buku yang ditulis Amien Rais ini diterbitkan oleh PPSK Press, dengan tebal 298 halaman. Buku ini diluncurkan Amien Rais, Selasa (13/5/2008), di sebuah gedung di kawasan Senayan, Jakarta. Selain terkait 10 tahun Reformasi, saat ini Indonesia juga memperingati 100 tahun (satu abad) Kebangkitan Indonesia.

Acara peluncuran buku itu dihadiri oleh sobat Amien Rais dari Negeri Jiran Malaysia, yakni Anwar Ibrahim. Selain Wakil PM Malaysia, tampak pula hadir beberapa tokoh nasional, seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, mantan Menkeu Fuad Bawazier, politisi PAN Abdillah Thoha, artis Anwar Fuadi, juga pemeran utama Republik Mimpi seperti Gus Pur dan Megakarti.

Di dalam buku ini, Amien mengaku bahwa dirinya menyampaikan ulasan, usulan. dan kritikan. Amien sadar bukunya ini akan dianggap sebagai kritik yang tajam, terutama oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Saya sadar bahwa usulan kritis dalam risalah ini oleh sebagian masyarakat, khususnya pemerintah Yudhoyono, dianggap terlalu keras dan tajam,” tulis Amien dalam kata pengantarnya.

Bagi Amien, masalah besar Indonesia yang senantiasa bergejolak adalah mengapa bangsa Indonesia terus saja miskin, terbelakang, dan tercecer dalam derap kemajuan bangsa-bangsa lain. Salah satu yang dianalisis Amien adalah karena nasionalisme bangsa Indonesia yang sempit, yang hanya bergelora pada penampilan luarnya.

Dia mengibaratkan bangsa ini sebagai rumah di pinggir jalan raya. Nah, bangsa dan pemerintah Indonesia yang memiliki rumah ini memiliki obsesi aneh. Obsesi itu adalah bagaimana rumah pagar itu selalu terlihat bersih, mengkilat, dan tidak boleh berdebu. Adalah tampak muka rumah yang paling penting, yang lain masih bodoh, yang penting penampilan.

“Sehingga ketika perabotan rumah dicuri di depan mata si pemilik rumah, ia tidak begitu peduli. Bahkan ketika istri dan anak-anaknya dibawa keluar oleh orang lain, si pemilik rumah tidak mengambil tindakan apa pun. Ia hanya bisa menonton, seolah tidak ada sesuatu yang dirisaukan,” tulis mantan ketua umum DPP PAN ini.

Amien menyindir hal ini terkait dengan penguasaan asing terhadap aset-aset nasional Indonesia. Banyak sumber daya alam (SDA) yang dikuasai oleh negara adidaya. Apa yang terjadi saat ini merupakan pengulangan sejarah tiga abad lalu, saat Nusantara mulai dikuasai oleh VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

Menurut Amien, saat ini, pada dasarnya kekuatan-kekuatan korporatokrasi di awal abad 21 tidak mudah, bahkan mustahil dengan gampang bisa mengacak-acak kedaulatan ekonomi Indonesia, seandainya elit nasional tidak membungkuk dan tiarap. Masalahnya, saat ini, banyak pemimpin Indonesia yang masih mewarisi mental inlander.

Amien mencontohkan kehadiran Presiden AS George W Bush pada akhir 2006 lalu. Menurut dia, banyak pemimpin bangsa Indonesia yang ‘ketakutan’ dan merasa panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia.”Pengamanan yang diberikan kepada Presiden AS yang di negerinya sendiri sudah tidak populer itu sungguh berlebih dan sekaligus agak memalukan. Tidak ada negara mana pun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan SBY. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS,” tegas Amien.

Anwar Ibrahim Puji Amien Rais

Dalam sambutannya, Mantan Wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim memuji figur Amien Rais sebagai seorang pejuang. Bahkan dia juga mengatakan salah satu sebab dia dipenjara karena berteman dengan Amien Rais.

“Saat tahun 1998, teman saya saat ditangkap ditanyai, kenal Amien Rais atau tidak? Jadi ada saham sedikit dari Amien Rais kenapa saya dipenjara,” kata Anwar dalam pidato sambutannya disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Kehadiran dirinya menurut Anwar dalam acara ini sebagai bentuk penghormatan dirinya untuk sahabatnya. Anwar menilai Amien merupakan seorang pejuang Indonesia.

“Saya datang di sini khusus untuk memberi penghormatan sahabat, yang saya anggap sebagai keluarga tapi sebagian besar sebagai pejuang Indonesia,” ujar Anwar.

Anwar juga sempat menyinggung penyebab kemarahan negara Islam atas kebijakan pemerintah AS. “Saya mengerti sebab kemarahan rakyat. Bukan hanya Malaysia, bukan juga hnaya Indonesia, tapi negara-negara Islam atas cengkraman AS,” pungkas dia.

An
war Ibrahim juga kagum terhadap kehidupan politik dan kemerdekaan pers di Indonesia. Namun Anwar juga mempunyai kritikan terhadap pemerintah RI.

“Saya kagum pada Indonesia. Meski banyak masalah seperti korupsi, tapi ruang demokrasi sangat luas,” ujar dia.

Anwar juga membandingkan kebebasan pers di Indonesia dengan Malaysia pada ajang pemilu. Gencarnya pemberitaan di setiap tahapan pemilu lengkap segala seluk beluk dengan kasus penyelewengan yang ada, bertolak belakang dengan kondisi di Malaysia.”Pemilu di Malaysia tidak ada media (pemberitaan). Padam semua,” ujar dia.

Kalah di ruang demokrastisasi dan kebebasan pers, Malaysia unggul di sektor peningkatan kesejahteraan rakyat. Terkait hal ini ia mengingatkan pemerintah RI untuk tidak mengabaikan asas keadilan bagi seluruh rakyat dalam memacu pertumbuhan ekonomi. “Jangan pernah mengorbankan rakyat demi pertumbuhan ekonomi!” tegasnya.

Sayangnya mantan menteri keuangan Malaysia ini enggan berbagi tip and trik mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional yang adil bagi rakyat. Nampaknya dia sangat memahami tantangan dihadapi pemerintah yang dalam banyak hal jauh berbeda dengan kondisi Malaysia. “Ada 220 juta penduduk Indonesia. Pening kepala saya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Launching di Medan

Peluncuran buku monumental Amien Rais yang sangat ditunggu-tunggu banyak kalangan ini juga akan dilakukan di Kota Medan pada akhir bulan ini. Hal ini dikatakan Nasril Bahar, koordinator pelaksana launching buku Amien Rais di Kota Medan.

Menurut Nasril, acara launching buku Amien Rais tersebut akan dilakukan secepatnya mengingat begitu antusiasnya masyarakat menunggu-nunggu kehadiran buku tersebut.

“Kita akan segera melaunching buku ini di Medan dan dihadirki langsung oleh pak Amien Rais,” jelas Nasril.

Dikatakan Nasril, antusiasme masyarakat sangat jelas terlihat dengan langsung habisnya buku tersebut di hari pertama penjual di beberapa toko buku di Jakarta.

“Insya Allah, kami akan secepatnya menluncurkan buku ini di Kota Medan agar warga Kota Medan dan Sumatera Utara khususnya yang telah lama menanti buku ini akan segera dapat menikmatinya,” ujar Nasril.

Kapanlagi.com – Izin operasional Jatayu Airline terancam dicabut karena hingga batas waktu yang diberikan maskapai penerbangan itu tidak juga menambah jumlah armada pesawat.

“Sesuai dengan peraturan yang berlaku maka izin operasional Jatayu terancam dicabut oleh Departemen Perhubungan,” kata Kepala Administrator Bandara Polonia Medan, Yuli Sudoso, di Medan, Senin (12/5).

Dia menjelaskan, sebelumnya pada pertengahan Maret lalu Ditjen Perhubungan Udara membekukan dua izin operasional maskapai penerbangan di Medan yakni Kartika Airline dan Jatayu Airline karena hanya memiliki satu unit pesawat yang seharusnya memiliki minimal dua unit pesawat.

Kedua maskapai itu diberikan waktu 21 hari terhitung sejak 15 April 2008 untuk segera menambah jumlah armadanya sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 81 tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.

Namun hingga melewati batas waktu yang ditentukan Jatayu belum juga menambah jumlah pesawatnya, sedangkan Kartika pada akhir Maret lalu telah diizinkan kembali beroperasi setelah sebelumnya menambah satu unit pesawat jenis Boeing 737-200.

“Sampai hari ini Jatayu belum juga menambah jumlah pesawatnya, maka dalam waktu dekat ini kemungkinan Jatayu akan bernasib sama dengan Adam Air,” tegasnya.

Jatayu Airline saat ini merupakan penerbangan berstatus sebagai angkutan udara tidak berjadwal atau carter, sehingga di Medan pengoperasiannya melalui jasa perusahaan biro perjalanan (travel).

Satu unit pesawat jenis Boeing 737-200 milik penerbangan itu saat ini masih tidak diterbangkan dan diparkir di taxy way terminal keberangkatan domestik Bandara Polonia.

Sementara itu pada kesempatan terpisah anggota Komisi VI DPR, Nasril Bahar, mengatakan, pemerintah sebaiknya tidak bermain-main dalam menjalankan regulasi yang ada untuk menegakkan supremasi hukum di bidang transportasi udara.

“Kita menginginkan pemerintah tidak bermain-main lagi dengan menegakkan aturan yang ada sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Jika itu tidak dijalankan, kita khawatir terjadi kemunduran dalam penegakan hukum dan berdampak negatif bagi industri penerbangan,” ujarnya sesaat sebelum bertolak ke Jakarta di Bandara Polonia Medan.

Selain itu juru bicara FPAN di DPR ini juga mengatakan, industri penerbangan di tanah air masih dipantau oleh dunia terutama Uni Eropa yang masih memberlakukan larangan terbang bagi maskapai Indonesia.

“Penerbangan kita masih dipantau oleh Uni Eropa. Oleh karena itu pemerintah dan penerbangan harus benar-benar menerapkan aturan yang ada baik dari segi keamanan, keselamatan dan pelayanan untuk terus menumbuhkan investasi di bidang industri penerbangan,” tegasnya. (*/lin)

kapanlagi.com

Senin, 12 Mei 2008

Medan, 12/5 (ANTARA) – Izin operasional Jatayu Airline terancam dicabut karena hingga batas waktu yang diberikan maskapai penerbangan itu tidak juga menambah jumlah armada pesawat.

“Sesuai dengan peraturan yang berlaku maka izin operasional Jatayu terancam dicabut oleh Departemen Perhubungan,” kata Kepala Administrator Bandara Polonia Medan, Yuli Sudoso, kepada ANTARA di Medan, Senin.

Dia menjelaskan, sebelumnya pada pertengahan Maret lalu Ditjen Perhubungan Udara membekukan dua izin operasional maskapai penerbangan di Medan yakni Kartika Airline dan Jatayu Airline karena hanya memiliki satu unit pesawat yang seharusnya memiliki minimal dua unit pesawat.

Kedua maskapai itu diberikan waktu 21 hari terhitung sejak 15 April 2008 untuk segera menambah jumlah armadanya sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 81 tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.

Namun hingga melewati batas waktu yang ditentukan Jatayu belum juga menambah jumlah pesawatnya, sedangkan Kartika pada akhir Maret lalu telah dizinkan kembali beroperasi setelah sebelumnya menambah satu unit pesawat jenis Boeing 737-200.

“Sampai hari ini Jatayu belum juga menambah jumlah pesawatnya, maka dalam waktu dekat ini kemungkinan Jatayu akan bernasib sama dengan Adam Air,” tegasnya.

Jatayu Airline saat ini merupakan penerbangan berstatus sebagai angkutan udara tidak berjadwal atau carter, sehingga di Medan pengoperasiannya melalui jasa perusahaan biro perjalanan (travel).

Satu unit pesawat jenis Boeing 737-200 milik penerbangan itu saat ini masih tidak diterbangkan dan diparkir di “taxy way” terminal keberangkatan domestik Bandara Polonia.

Sementara itu pada kesempatan terpisah anggota Komisi VI DPR, Nasril Bahar, mengatakan, pemerintah sebaiknya tidak bermain-main dalam menjalankan regulasi yang ada untuk menegakkan supremasi hukum di bidang transportasi udara.

“Kita menginginkan pemerintah tidak bermain-main lagi dengan menegakkan aturan yang ada sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Jika itu tidak dijalankan, kita khawatir terjadi kemunduran dalam penegakkan hukum dan berdampak negatif bagi industri penerbangan,” ujarnya sesaat sebelum bertolak ke Jakarta di Bandara Polonia Medan.

Selain itu juru bicara FPAN di DPR ini juga mengatakan, industri penerbangan di tanah air masih dipantau oleh dunia terutama Uni Eropa yang masih memberlakukan larangan terbang bagi maskapai Indonesia.

“Penerbangan kita masih dipantau oleh Uni Eropa. Oleh karena itu pemerintah dan penerbangan harus benar-benar menerapkan aturan yang ada baik dari segi keamanan, keselamatan dan pelayanan untuk terus menumbuhkan investasi di bidang industri penerbangan,” tegasnya.

Antara
Koran Internet
Senin, 12 Mei 2008

JAKARTA-Setelah diserbu aksi demonstrasi ribuan buruh, kemarin (2/5) giliran demonstrasi ribuan guru honorer menyerbu Jakarta. Ribuan guru honorer yang datang dari berbagai daerah di Indonesia itu memadati Monumen Nasional dan depan Istana Negara. Mereka juga mendatangi Gedung DPR.

Ribuan guru honorer yang tergabung dalam Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI) ini tiba di depan Gedung DPR, pukul 13.30 WIB.

“Gaji Rp100 ribu sebulan apa cukup?” begitu tertulis di salah satu poster yang mereka bentangkan.

”Kami menuntut diangkat menjadi PNS. Belasan tahun mengajar, hanya berstatus honorer,” kata salah seorang orator.

Para guru honorer ini mendesak PP No 243/2007 direvisi. PP tersebut dinilai belum mengakomodir tenaga honorer di sekolah-sekolah negeri.

PP 43 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.

Selain guru honorer, 200-an mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) sudah lebih dulu tiba di gerbang Gedung DPR/MPR itu. Mereka membentangkan sebuah spanduk yang dipasangkan di pagar gerbang.

Spanduk itu berisikan ancaman akan mengambil alih DPR jika tidak merealisasikan 20 persen anggaran pendidikan di luar gaji dan tunjangan guru, mengesahkan RUU Badan Hukum Pendidikan, dan mendesak Ujian Nasional dihapuskan.

Sampai pukul 13.45 WIB ini, kedua kelompok massa itu terus berorasi. Sementara bus-bus yang membawa guru-guru honorer terus berdatangan. Jalan Gatot Soebroto mulai macet di siang yang terik ini.

Status sebagai PNS yang tak kunjung didapat, tidak hanya berpengaruh pada kelangsungan asap dapur para guru honorer. Tapi juga merusak keharmonisan rumah tangga anggota korp pahlawan tanpa tanda jasa itu.

Subandi, pengurus Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri se-Indonesia (FTHSNI) sempat curhar pada anggota F-PAN DPR Yasin Kara dan Nasril Bahar dalam dialog di Gedung DPR. “Kalau terus tiap pulang nggak pernah punya duit, bisa menambah kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga),” ujarnya mengadu.

Subandi telah jadi guru honorer sejak 22 tahun lalu. Sekarang ini ia mengajar mata pelajaran PPKN di SMP XI Jogjakarta dan SMK VI Jogjakarta. Meski sudah bekerja keras di dua tempat, penghasilan bulanan ayah dua anak ini hanya Rp 200 ribu.

“Saya tiap hari berantem dengan istri gara-gara uang belanja tidak pernah cukup. Bahkan pernah sampai hampir cerai. Apa saya harus ngerampok dulu?” gugatnya.

Maka mendapat status sebagai PNS bukan berarti lonjakan pendapatan tapi juga salah satu cara ampuh mempertahankan keutuhan rumah tangga dan mencegahnya jadi pelaku KDRT atau perampok. (lev/jpnn)

Sumut Pos
Sabtu, 3 Mei 2008