Stop Impor Makanan dari China

MEDAN – Anggota DPR RI H Nasril Bahar, SE mendesak pemerintah mengambil langkah tegas mengantisipasi masuknya makanan impor yang membahayakan kesehatan asal China pasca penemuan makanan mengandung melamine.
Caranya dengan menyetop impor semua makanan asal negeri itu. Tidak parsial pada jenis makanan tertentu seperti makanan yang mengandung susu saja.

“Banyaknya jumlah produk makanan asal China mengandung melamine seperti yang baru ditemukan itu, menunjukkan ada masalah sangat besar pada produk makanan asal China. Tidak ada cara lain, impor harus distop jika masalahnya ingin selesai,” kata Nasril Bahar di Medan, Minggu (28/9).

Persoalan ini, kata Nasril, sangat serius karena menyangkut kesehatan masyarakat. Sementara anggaran kesehatan untuk masyarakar masih minim, justru bermacam potensi penyakit dari makanan impor terus berdatangan. Sayangnya, masalah itu baru diketahui setelah makanan tersebut beredar melalui pasar-pasar swalayan dan supermarket dan sudah banyak yang dikonsumsi masyarakat.

Beredar bebasnya makanan-makanan mengandung zat berbahaya tersebut, ujar Nasril, sesungguhnya menunjukkan kinerja yang lemah dalam lembaga pemerintahan yang terkait dengan masalah ini. Produknya beredar bebas tanpa register dari Departemen Kesehatan, penyitaan baru dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) setelah kasusnya mencuat. Sudah begitu, pemerintah justru tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap pengimpor. Mestinya langsung dilakukan pencabutan izin impor dari pelaku.

“Hal seperti ini sudah terjadi beberapa kali. Juli tahun lalu ditemukan beberapa produk manisan buah dan permen asal China yang mengandung formalin. Sekarang bahan makanan yang bercampur melamine. Pemerintah seharusnya tidak boleh lengah,” ujar Nasril yang terpilih sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara III.

Pentingnya menutup pintu impor makanan dari China, karena masalah-masalah yang selalu ditimbulkan, sementara pemerintah cenderung lamban. Misalnya, kata Nasril, buah-buahan asal China. Pemerintah Thailand sudah sejak tahun lalu warganya berhati-hati dalam membeli makanan impor asal China, khususnya buah dan sayuran karena mengandung pestisida dalam tingkat berbahaya, sementara Indonesia justru belum ada larangan ini.

Selundupan

Nasril menyebutkan, banyak juga makanan asal China dan negara-negara lain seperti Malaysia dan Singapura yang masuk ke Indonesia melalui jalur penyeludupan. Tidak ada bea masuk dan tidak terjamin kualitas kesehatan makanan itu. Namun tetap saja dibiarkan.

“Sebagian makanan impor yang masuk ke Indonesia dan kemudian dijual bebas di swalayan itu merupakan hasil penyeludupan. Ketika ada masalah, baru dilakukan razia. Itu solusi jangka pendek dan sifatnya tertentu waktu, seharusnya tidak begitu,” kata Nasril yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN).

Disebutkan, selain masalah pendapatan negara yang berkurang serta aspek kesehatan produk makanan impor yang tidak terjamin, pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga dirugikan dalam masalah ini. Produk-produk impor itu menutup peluang pembelian barang sejenis yang dihasilkan UKM dalam negeri.

“Sudah beberapa kali kita sampaikan, makanan impor ini harus, dibatasi dan diawasi, karena lebih banyak merugikan. Namun faktanya masih terjadi sampai sekarang. Akhirnya masyarakat juga yang dirugikan. Lagi pula produk makanan dalam negeri tidak kalah rasa dan kualitas, kok. Mengapa harus impor?” ujar Nasril.

Sebab itu pemberantasan penyeludupan harus semakin ditingkatkan. Bea Cukai dituntut lebih efektif menjalankan tugas dan fungsinya. Apalagi, Bea Cukai sebagai bagian dari Departemen Keuangan mendapat penghasilan yang lebih dibanding Pegawai Negeri Sipil lainnya sebab mendapatkan dana tunjangan khusus atau remunerasi. Seharusnya perannya lebih optimal. Nasril menyatakan, memang selain Bea Cukai, masalah makanan impor ini melibatkan banyak lembaga lain. (iwa)

Waspada
Senin, 29 September 2008


  1. Anonymous

    SEMUA IMPOIR ITU MEMANG TIDAK DIPERLUKAN KOK!!!! NGAPAIN SUSU AJA DIIMPOR??? PEMERINTAH BEGOK!!!




Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: