Flu Burung Dianggap Kabar Burung

Medan – Nama Jonnes Ginting dikenal luas di terminal angkutan kota Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara. Maklum, ia adalah salah satu preman yang cukup disegani di terminal tersebut. Apalagi, mendiang ayahnya, Ponten Ginting, merupakan tokoh karismatik di Karo yang kabarnya punya kesaktian tinggi. Ilmu kanuragan itu diyakini warga di wilayah Karo menurun kepada Jonnes.
Keyakinan warga semakin bertambah ketika Jonnes bisa lolos dari kematian mendadak yang menimpa keluarganya di Desa Kubu Simbelang. Soalnya warga Simbelang menganggap kematian keluarganya, Puji Ginting, Roy, Anta Ginting, Boni, Rafael Ginting, Breinata Tarigan, serta Dowes Ginting akibat ilmu hitam alias santet. Sebab kematian itu hanya menyerang satu keluarga. Bukan akibat flu burung, seperti yang dinyatakan dinas kesehatan setempat.

Ketika flu burung merebak di Simbelang, awalnya sebagian warga tidak mempercayai kalau kematian yang menimpa keluarga Puji Ginting, ibu Jonnes Ginting adalah karena flu burung. Mereka lebih yakin kalau bencana yang menimpa keluarga Puji Ginting akibat guna-guna. Bagi warga Simbelang, yang masih cukup terbelakang, flu burung merupakan kosakata yang baru, dan cenderung aneh untuk nama sebuah penyakit.

“Waktu itu masyarakat tidak berani keluar dari rumah bukan karena flu burung, tapi takut terkena teluh juga. Kalau penyakit, pastilah satu kampung itu kena semua. Lagi pula peternakan ayam di Desa Kacinambun yang dekat dengan Simbelang, justru tidak apa-apa. Tidak ada itu flu burung, namanya saja, flu burung, itu kabar burung, tidak bisa dipercaya,” kata Karsima Sembiring (20) salah seorang warga.

Kepala Dinas Kesehatan Karo, Dinan E. Sembiring mengakui sangat kerepotan memberi penjelasan kepada warga Simbelang kalau kematian keluara Puji Ginting akibat avian influensa (AI) alias flu burung. Sebab sebutan flu burung merupakan hal yang aneh di telinga mereka. Apalagi kalau disebut-sebut sebagai penyebab kematian sekeluarga. “Butuh waktu untuk mengubah itu, tapi penjelasan terus kita berikan. Sebagian warga sudah berubah pendapat,” ujar Diana.

Menurut Diana, pertengahan 2006 flu burung menyerang 26 desa di 17 kecamatan di 11 Kabupaten di Sumatera Utara. Setelah 3 bulan serangan itu, korban meninggal tercatat 8 orang. 7 di antaranya adalah keluarga Puji Ginting warga Desa Kubu Simbelang. Satu korban lainnya, Nerpi Sitinjak (26), warga Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, yang meninggal 12 Mei 2007, setelah tiga hari dirawat di RSUP Adam Malik, Medan.

Beruntung Jonnes Ginting, yang tinggal serumah dengan keluarganya yang jadi korban flu burung bisa selamat. Sekalipun ia juga sempat terjangkit dan harus dirawat selama 2,5 bulan di RSUP Adam Malik. Jonnes merupakan satu-satunya korban yang selamat dari kasus cluster flu burung di Simbelang.

Kesembuhan Jonnes membuka harapan bagi tim penanganan flu burung yang ada di Sumatera Utara. Ternyata flu burung tidak selalu berujung kematian. Meski demikian, hingga sekarang belum jelas apa penyebab kesembuhan Jonnes dari virus mematikan tersebut. Apalagi keluarga Jonnes yang meninggal, juga sempat mendapat perawatan intensif, asupan tamiflu dan antibiotik dosis tinggi, seperti yang diberikan kepada Jonnes. Tapi ternyata hanya Jonnes yang berhasil lolos dari maut.

“Kita sampai sekarang tidak tahu mengapa. Sebenarnya bisa dianalisis secara medis untuk mengetahui penyebab kesembuhan Jonnes, tetapi biayanya mahal dan kemungkinan besar tes itu harus dilakukan di luar negeri,” kata Profesor Luhur Soeroso, Ketua Tim Penanganan Flu Burung RSUP Adam Malik, yang sempat merawat Jonnes.

Pertanyaan serupa juga diungkapkan Jonnes saat ditemui detikcom di Simbelang, awal Desember 2008. Hingga kini ia hanya bisa menduga-duga apa yang jadi penyebab kesembuhannya. “Saya tidak tahu persis apa yang membuat saya bisa sembuh. Bisa jadi obat-obatan yang diberikan dokter, ramuan dari China yang saya minum, atau bisa juga karena minum tuak selama di rumah sakit,” ujar Jonnes
awal Desember lalu.

Sejak terjangkit flu burung, 8 Mei 2006, Jonnes selain mendapat pengobatan dokter juga melakukan penyembuhan secara alternatif. Len Ginting, paman Jonnes mengatakan, sejumlah orang pintar telah dikerahkan untuk mengobati Jonnes dari jarak jauh. Namun hasilnya tidak menggembirakan.

Penyembuhan alternatif tersebut sengaja diambil Jonnes lantaran ia merasa penyembuhan ala medis sangat menyiksa diri. Misalnya, pengambilan sampel darah terus-menerus dan ia diwajibkan meminum beragam jenis obat setiap hari. Itu sebabnya baru dua hari dirawat di rumah sakit Jonnes tidak kerasan dan melarikan diri. “Aku pergi ke rumah keluarga di Jl. Pasar II, Medan,” kata Jonnes singkat.

Namun baru empat hari buron dari rumah sakit, kondisinya semakin mengkhawatirkan. Keluarganya di Medan kemudian mengantarkan Jonnes ke rumah sakit tempat ia dirawat sebelumnya. Jonnes langsung ditempatkan di ruang isolasi Rindu A. Untuk mencegah Jonnes melarikan diri, seorang polisi ditugaskan menunggui ruang tempat Jonnes dirawat.

Tuak dan Obat Cina

Karena mendapat pengawasan ketat Jonnes mau tidak mau menjalani perawatan dengan patuh. Meski demikian, ia tidak menghilangkan kebiasaannya meminum tuak, minuman tradisonal di Sumatera Utara yang mengandung alkohol. Tuak itu didapat dari keluarganya yang datang menjenguk. Tapi tentunya minuman itu diberikan kepada Jonnes dengan cara sembunyi-sembunyi.

Selain tuak, asupan yang ia minum, selain obat-obatan dari dokter, adalah obat herbal yang berasal dari rumput kering. Obat itu ia dapatkan dari seseorang yang mengaku berasal dari Hong Kong. Menurut pengakuan Len Ginting, saat Jonnes dirawat di rumah sakit, seseorang datang ke rumah kerabat Jonnes di Kabanjahe. Pria itu kemudian memberikan dua bungkus plastik obat herbal berupa rumput-rumputan kering.

“Laki-laki itu datang dari Hong Kong. Dia menyebutkan nama melalui penerjemah, tapi lupa siapa. Dia bertanya, ‘Apa benar di sini keluarga Jonnes yang terkena flu burung seperti diberitakan media massa?’ Setelah dijawab benar, langsung diberikannya dua bungkus plastik itu. Katanya, ‘Ini untuk obat flu burung, dan dijamin pasti sembuh.’ Lalu obat itu diserahkan kepada saya untuk diantarkan,” jelas Len Ginting.

Sebenarnya hari itu Len Ginting baru saja pulang dari rumah sakit. Dia tidak kuat menahan sedih karena yakin, Jonnes juga tidak akan bertahan seperti saudara-saudaranya yang sudah meninggal dunia. Tapi mendengar ada obat alternatif untuk Jonnes, hari itu juga Len kembali ke Medan dan membawa dua bungkusan itu. Obat itu akan berwarna hitam pekat jika diseduh air panas.

Awalnya Len Ginting merasa terkejut dengan efek obat herbal tersebut. Karena setelah meminum obat itu Jonnes langsung memuntahkan cairan. Namun karena keluarga sudah pasrah, obat itu terus diberikan kepada Jonnes hingga habis satu bungkus. Setelah satu bungkus obat herbal itu habis, kondisi Jonnes mulai membaik. Obat itu tidak diminum lagi, dan sisa yang satu bungkus disimpan. Namun Len tidak pasti, di mana bungkusan itu berada saat ini.

Setelah mendapatkan perawatan intensif selama 2,5 bulan. Jonnes kemudian dibolehkan pulang. Tapi ia tetap wajib datang ke RSUP Adam Malik seminggu sekali untuk pengecekan rutin. Ia akhirnya baru bisa benar-benar lepas dari rumah sakit pada 20 Juli 2008. Dan saat ini giliran tim dokter yang datang
setiap enam bulan ke rumah Jonnes di Jl. Veteran, Gang Sempakata, Kabanjahe.

“Itu hanya mengecekan rutin. Saat ini Jonnes sudah tidak lagi mendapat perawatan, tidak minum obat apapun. Dia sudah sembuh total, namun mungkin selamanya akan dimonitor kesehatannya,” kata Luhur Soeroso, ketua tim dokter yang merawat Jonnes.

Kini kesehatan Jonnes sudah pulih seperti sediakala. Baginya, sempat berada di ujung kematian telah merubah banyak hal dalam hidupnya. Sejak sembuh ia tidak lagi mangkal di terminal Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Bersama istrinya, Amesti Tarigan, Jonnes sekarang sibuk mengurus beberapa petak kebun buah jeruk miliknya di Simbelang sambil membesarkan kedua anaknya, Raymond Ginting (7) dan Veldy Ginting (3).

Pastinya, kasus flu burung yang menimpa warga Simbelang telah menjadi pelajaran berharga bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Karo. Saat ini di setiap kecamatan di Karo telah disiapkan 200 butir tamiflu. Sementara di RSUD Kabanjahe, selain obat-obatan juga tersedia satu ruangan isolasi berikut peralatan untuk pasien flu burung yang harganya mencapai Rp 1 miliar.

Dengan didirikannya fasilitas penanganan flu burung di Kabanjahe diharapkan bisa mempercepat penanganan pasien flu burung yang berasal dari Kabupaten karo. Jadi tidak perlu repot-repot dibawa ke Medan.

Kendati antisipasi sudah mulai dilakukan, namun anggota DPR RI asal Sumut Nasril Bahar berharap, kasus pengucilan yang terjadi di Kubu Simbelang tidak terulang lagi. “Kasus-kasus pengucilan seperti yang dialami warga Kubu Simbelang, hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Harus ada modul penanganan yang baik.

Pengucilan terjadi karena pengetahuan masyarakat yang minim, makanya sosialisasi harus dilakukan secara terus-menerus,” ujar Nasril.

Pemerintah pun diminta lebih aktif melakukan sosialisasi tentang flu burung. Dan yang terpenting jangan gegabah dalam mengeluarkan pernyataan yang bisa menggegerkan warga, seperti yang terjadi di Simbelang. (ddg/iy)

detikcom
Selasa, 16 Desember 2008




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: