Perbankan Harus Segera Sahuti UU Resi Gudang

Anggota Komisi VI DPR RI Nasril Bahar, mengingatkan agar perbankan di Sumatera Utara (Sumut) segera menyahuti sistem resi gudang sebagaimana amanah Undang-Undang (UU) No 9 tahun 2006 tentang Resi Gudang.
“Sikap tanggap perbankan ini sangat penting. Dengan begitu, mulai sekarang para petani akan merasa nyaman mengelola usahanya karena merasa adanya jaminan perbankan,” kata Nasril.

Ia mengemukakan hal itu pada Bimbingan Teknis Sistim Resi Gudang dalam rangka Sosialisasi UU Resi Gudang No 9/2006 di Aula Syamsul Arifin Gedung Pramuka Stabat Langkat, Senin (1/12).

Nasril menjelaskan, salah satu manfaat paling dirasakan petani atas sikap tanggap perbankan ini adalah, para petani tidak lagi khawatir dengan harga jual komoditi pertaniannya. Sebab, dengan resi gudang ini, harga jual komoditi petani tetap terjaga.

Hal penting lain, para petani tidak lagi khawatir kekurangan modal karena bisa mendapatkan modal dari perbankan untuk mengembangkan usaha pertaniannya.

“Dengan resi gudang, petani tidak perlu lagi mengagunkan lahan petanian, rumah atau barang berharga lain milik petani untuk mendapatkan modal usaha. Cukup dengan menunjukkan resi gudang kepada perbankan,” katanya.

Resi gudang itu sendiri, jelas Nasril Bahar, merupakan dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang. Resi ini diperoleh dari pengelola gudang yang sudah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Departemen Perdagangan (Depdag).

Ia menilai, sistem resi gudang yang merupakan amanah UU No 9 tahun 2006, merupakan salah satu upaya pemerintah melindungi para petani dalam mengelola usaha pertaniannya. Dengan adanya resi gudang, komoditi pertanian akan memiliki jaminan harga.

“Petani tidak perlu lagi khawatir dengan hasil pertaniannya terbuang sia-sia karena membusuk. Sebab hasil pertanian itu bisa disimpan di gudang yang dikelola pengusaha yang mendapat persetujuan dari Bappebti Depdag,” jelasnya.

Dengan sistim resi gudang ini, katanya, petani Indonesia sudah bisa merasakan sedikit “kemerdekaan”. “Selama ini, para petani merasakan belum ‘merdeka’. Karena harga komoditi pertanian selalu merugikan mereka,” katanya. Isvan Wahyudi | Global | Stabat

Selasa, 2 Desember 2008
Media Lapan Anam
Harian Global
Yokowebs




    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: