Jejak Flu Burung dari Kubu Simbelang

Kubu Simbelang secara umum kondisinya sama dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). Lahan pertanian yang subur, masyarakat yang menjunjung adat, serta kerukunan yang terjaga. Namun warga di sini paling tak suka membicarakan flu burung. Bukan tabu, tapi tak ingin mengungkit trauma di masa lalu.
“Untuk apa lagi membahas flu burung. Sudah lama itu, masa lalu. Lebih baik bicara yang lain,” kata Caranta Perangin-angin (39), salah seorang warga Kubu Simbelang, awal Desember lalu.

Flu burung pernah menjadi masalah besar bagi mereka. Nama Kubu Simbelang mencuat ketika flu burung berkecamuk hebat pertengahan 2006 lalu. Tujuh warga desanya yang masih satu keluarga meninggal dunia. Enam di antaranya positif terinfeksi virus flu burung atau avian influenza. Kasus itu kemudian dinyatakan sebagai cluster (kelompok) terbesar yang terinfeksi flu burung di Indonesia, dan salah satu terbesar dunia.

Sebutan sebagai cluster terbesar, membuat suasana desa berubah. Simbelang yang berjarak sekitar 88 kilometer dari Medan, ibukota Sumut, mendadak riuh. Iringan-iringan kendaraan melewati jalanan desa yang masih belum beraspal seluruhnya. Berbagai kalangan datang, mulai World Health Organization (WHO), para pejabat Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, aparat pemerintahan dari provinsi, serta rombongan jurnalis. Di media massa, kasus itu menjadi laporan utama.

“Sebenarnya kasus ini kecil, hanya saja dibesar-besarkan. Kebanyakan masyarakat masih menganggap hal itu sengaja dipolitisir untuk mendapatkan proyek dari luar negeri,” keluh Caranta.

Korban Berjatuhan

Kasus yang menurut Caranta dibesar-besarkan itu, bermula ketika Puji Ginting, perempuan berusia 45 tahun meninggal dunia pada 4 Mei 2006 di Simbelang. Tak jelas penyebab kematian Puji, tetapi yang pasti beberapa hari sebelumnya ada dua ekor ayam peliharaannya mati. Tak lama Puji langsung sakit dan akhirnya meninggal dunia. Kuat dugaan Puji meninggal karena terinfeksi virus flu burung walau sampel darahnya tidak sempat diperiksa.

Menyusul kabar duka ini, seluruh keluarga datang melayat dan sempat makan dengan lauk daging ayam di rumah duka. Sehari berkelang, keluarga dekat mendiang Puji mulai sakit dan dirawat di RSU Kabanjahe, di Kabanjahe ibukota Karo. Pemeriksaan medis menunjukkan, terdapat radang paru-paru, batuk, nyeri otot, serta sel darah putih rendah. Kondisi ini mengarah pada gejala awal flu burung.

Mereka segera dikirim ke pusat rujukan pasien flu burung di Sumut, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik di Jl. Bungalow, Medan, dan ditempatkan di ruang isolasi. Sampel darah diambil dan dikirim ke Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan di Jakarta.

Belum lagi hasil uji sampel diketahui, pada 9 Mei, atau sehari setelah dirawat di Medan, Roy Karo-karo (19) meninggal dunia. Roy merupakan putra mendiang Puji. Kemudian pada 10 Mei, adik perempuan Puji, Anta Ginting (29) juga meninggal dunia. Berikutnya pada 12 Mei, Boni Karo-karo (18) yang meninggal dunia. Boni merupakan adik Roy.

Pada 13 Mei, Rafael Ginting (8), juga meninggal dunia. Rafael merupakan putra Dowes Ginting (38), adik Puji. Pada 14 Mei, putri Anta Ginting, Breinata Tarigan yang masih berusia 1,5 tahun juga meninggal dunia di rumah sakit. Korban terakhir Dowes Ginting juga meninggal pada 22 Mei. Dowes tidak sempat mendapat perawatan di rumah sakit, namun uji darah menunjukkan positif terinfeksi flu burung. Satu-satunya yang bisa bertahan dari cluster itu, hanyalah Jonnes Ginting (27), adik Puji.

Korban sudah sedemikian banyak, namun sumber penyakit masih belum diketahui. Hanya berupa dugaan, para korban terpapar dari sumber yang sama, entah apa. Pemeriksaan memang dilakukan terhadap unggas milik warga. Spesimen suap kloaka ayam, serta sampel kotoran ayam diambil. Pupuk kandang juga ditelisik, terutama yang berada di sekitar rumah para korban.

“Hasilnya pada waktu tidak ada sampel yang positif flu burung,” kata Indah Setiowati, Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Ikan Dinas Peternakan Karo.

Begitupun, untuk memastikan terhentinya penyebaran virus, pemusnahan unggas dilakukan di Simbelang. Selain itu, Kabupaten Karo memperketat pengawasan lalu lintas ternak, produk unggas dan pupuk kandang. Dua pos pemeriksaan disiagakan. Pos pertama di Desa Doulu, Berastagi untuk memeriksa kendaraan pembawa unggas yang masuk dari Medan, dan sekitarnya. Sedangkan satu pos lagi di Merek, untuk memeriksa kendaraan dari Kabupaten Dairi hingga dari Aceh.

Intimidasi Sosial

Sumber virus flu burung masih belum dipastikan berasal dari mana, tetapi kasus ini sudah menyusahkan warga Simbelang. Berita di media massa berimplikasi negatif, apalagi kasus itu menyebabkan Sumut dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) flu burung. Masyarakat luar khawatir datang ke Simbelang, takut tertular. Sebagian angkutan umum juga menolak membawa penumpang dari desa tersebut. Sudah begitu, hampir seluruh produk pertanian dan peternakan dari Simbelang ditolak di pasar.

Simbelang mulai terkucil. Hanya mereka yang masih terhitung keluarga atau dihubungkan kesamaan marga yang mau menjenguk ke desa.

Sebenarnya beberapa hari setelah flu burung marak, Bupati Karo DD Sinulingga diundang ke desa untuk makan daging ayam dan terbukti Pak Bupati sehat-sehat saja. Namun kegiatan itu tak mempan menghilangkan stigma sebagai sumber flu burung. Pengucilan terus berlanjut.

Kondisi ini membuat warga Simbelang mulai anti terhadap media, anti terhadap wartawan dan semua orang luar yang datang ke desa berkaitan dengan flu burung. Mereka bahkan mengultimatum peneliti kesehatan untuk segera angkat kaki dari Simbelang. Unjuk rasa pun digelar di Karo, Medan dan Jakarta. Lengkap dengan atraksi minum darah ayam yang dibawa dari Karo untuk menunjukkan unggas di Karo tak terjangkit virus.

Upaya itu tidak langsung memberi hasil. Para peternak ayam menanggung beban terberat. Harga ayam yang semula Rp 15 ribu per kilogram, mendadak tidak laku. Berbagai kegiatan makan ayam bersama di Karo, tidak mampu mendongkrak penjualan. Pemilik rumah makan di Karo kebanyakan sudah tidak lagi menyajikan daging ayam.

“Kalau cerita kerugian, ya susah menghitungnya. Tetapi banyaklah,” ujar Tarigan, salah seorang penjual ternak di Kabanjahe.

Tak Kunjung Reda

Kasus-kasus flu burung di Karo seakan sahut-menyahut, tak pernah reda. Pasca Simbelang, di beberapa kawasan lain di Karo sejumlah unggas ditemukan mati. Bahkan melebar ke beberapa kabupaten tetangga seperti Deli Serdang, Dairi dan Simalungun. Berbeda dengan Simbelang, kali ini hasil penelitian menunjukkan sejumlah unggas positif flu burung.

Pemusnahan unggas dilakukan di berbagai tempat, termasuk di Sumbul, Desa Sumber Mufakat, Kabanjahe, terpaut sekitar 20 kilometer dari Simbelang. Beberapa warga Sumbul sempat dirujuk ke RSUP Adam Malik karena suspect flu burung, sebelum akhirnya dinyatakan negatif.

Pemusnahan itu sendiri tidak berjalan mudah. Masyarakat yang merasa peliharaannya tidak terkena penyakit, semula menolak unggasnya dimusnahkan, walau mendapat ganti rugi Rp 12.500 per ekor. Mereka akhirnya bersedia karena khawatir dengan UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular untuk menanggulangi pandemi ini. UU itu menetapkan siapapun yang menghalangi usaha pemerintah menangani wabah, diancam pidana penjara paling lama satu tahun dan/atau denda paling tinggi Rp 1 juta.

Tak kunjung membaiknya kondisi di Karo, membuat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakri, Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari, dan Menteri Pertanian Anton Apriantono datang ke Karo dan meninjau Desa Sumber Mufakat. Saat itu para menteri dan rombongan mengenakan personal protective equipment, pakaian pengaman yang disebut warga sebagai pakaian robot.

Warga yang tidak terima desanya dianggap terinfeksi dan langsung menunjukkan perlawanan. Mereka meminta para menteri menanggalkan semua alat perlindungan kalau mau masuk desa. Sempat terjadi aksi tolak-menolak dengan rombongan sebelum akhirnya pakaian robot itu dibuka dan pembicaraan dengan warga bisa dilakukan di balai desa.

Setelah Tiga Tahun

Flu burung sebenarnya bukan hal baru bagi Sumut. Kasus pertama muncul pada Mei 2005 di Kecamatan Huta Padang, Kabupaten Simalungun dinyatakan positif. Kepala Urusan Pelaporan dan Informasi Unit Pengendali Penyakit Avian Influenza, Departemen Pertanian, Tjahjani Widiastuti menyatakan, kendati tidak sampai terjadi penularan ke manusia, namun penyebarannya demikian cepat.

“Hingga bulan Desember 2005, virus itu telah menginfeksi 14 kabupaten dan kota di Sumut,” kata Tjahjani dalam Inception Workshop, Media Partnership Program: The Human Face of Avian Influenza, kerjasama Departemen Pertanian dan Food & Agriculture Organization (FAO) di Jakarta.

Namun kasus pertama itu seolah tidak menjadi bekal pengalaman. Ketika setahun berikutnya flu burung muncul di Karo, pemerintah setempat seolah tidak siap. Menurut Caranta, kelemahan penanganan flu burung di Simbelang adalah respon yang lambat. Beberapa hari setelah korban pertama meninggal dunia, tidak ada tindakan berarti, baik itu disinfektan terhadap ternak maupun penanganan medis bersifat pencegahan pada warga. Akibatnya korban yang meninggal cukup banyak.

Sudah begitu terjadi tumpang-tindih keterangan. Misalnya tentang sumber penularan, semula Menteri Kesehatan menyatakan bersumber dari pupuk kandang, lantas dianulir dengan pernyataan belum pasti. Masyarakat juga tidak mendapat informasi yang cukup tentang penyakit tersebut.

“Yang terjadi justru pemerintah lebih banyak berbicara di media massa. Masyarakat butuh penanganan yang besar, bukan publikasi besar-besaran yang menimbulkan persepsi buruk. Simbelang dituding sebagai sumber flu burung, padahal itu tidak pernah terbukti, sampai kini,” ujar Caranta.

Hal ini dinilai sebagai ironi. Kasusnya besar, korbannya banyak, namun sumber penyakitnya tidak diketahui. Warga sudah terlanjur menderita ketika pemerintah akhirnya menyatakan tidak ada unggas di Simbelang yang terinfeksi flu burung.

Sembuh Karena Berilmu Tinggi

Setidaknya hampir tiga bulan warga Simbelang terkucil. Keadaan sedikit membaik seiring dengan semakin menyebarnya virus flu burung di Sumut. Dalam kurun 2006, menyerang 26 desa pada 17 kecamatan di 11 kabupaten dan kota yang menyebabkan dimusnahkan sekitar 100 ribu ekor unggas. Bagi warga, penyebaran yang meluas itu artinya, membenarkan dugaan bahwa bukan Simbelang yang menjadi sumber virus.

Kesembuhan Jonnes Ginting dari flu burung juga merupakan harapan besar dalam upaya mengatasi keterkucilan itu. Dia satu-satunya korban yang selamat dari kasus cluster flu burung di Simbelang. Jonnes menjadi bukti, ternyata flu burung tak selalu berujung kematian. Tak jelas, apa yang membuat pria ini bisa sembuh. Seluruh kerabat Jonnes yang sempat dirawat di Adam Malik, sebenarnya juga mendapat asupan tamiflu dan antibiotik dosis tinggi, namun uniknya hanya Jonnes bertahan.

“Kita sampai sekarang tidak tahu mengapa. Sebenarnya bisa dianalisis secara medis untuk mengetahui penyebabnya, tetapi biayanya mahal dan kemungkinan besar tes itu harus dilakukan di luar negeri,” kata Profesor Luhur Soeroso, Ketua Tim Penanganan Flu Burung RSUP Adam Malik, tempat Jonnes dirawat sekitar 2,5 bulan.

Jonnes juga punya pertanyaan serupa. Dia masih menduga-duga, apa yang membuat dia bisa sembuh.

“Saya tidak tahu persis apa yang membuat saya bisa sembuh. Bisa jadi obat-obatan yang diberikan dokter, ramuan dari Cina yang saya minum, atau bisa juga karena minum tuak selama di rumah sakit,” ujar Jonnes awal Desember lalu.

Jonnes dirawat di RSUP Adam Malik sejak 8 Mei 2006. Selama masa perawatan dokter di rumah sakit, upaya penyembuhan secara alternatif juga dilakukan keluarga. Len Ginting, paman Jonnes menyatakan, sejumlah orang pintar terus melakukan pengobatan dari jarak jauh. Hasilnya tidak mengembirakan hingga akhirnya hanya berharap pada upaya medis.

Menurut Jonnes, masa–masa penyembuhan itu cukup menyiksa. Pengambilan sampel darah yang terus-menerus dan meminum beragam jenis obat. Dua hari pertama di rumah sakit, Jonnes bahkan sempat melarikan diri.

“Aku pergi ke rumah keluarga di Jl. Pasar II, Medan,” kata Jonnes.

Empat hari kemudian, Jonnes diantarkan keluarganya kembali ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya semakin buruk. Untuk mencegah dia kembali melarikan diri, polisi mengamankan kamar perawatan Jonnes di ruang isolasi Rindu A.

Dalam pengawasan ketat, Jonnes terpaksa menjalani perawatan dengan patuh. Tetapi dia tidak bisa menghilangkan ketagihannya akan tuak, minuman tradisional beraroma dari pohon aren. Secara sembunyi-sembunyi keluarga memberikan minuman itu ketika dokter tidak ada. Hal itu bisa dilakukan karena pengawasan di ruangan isolasi tak begitu ketat. Pihak keluarga bisa hilir-mudik tanpa harus menggunakan masker maupun alat perlindungan lain. Pengecualian hanya jika ada pejabat tinggi yang datang. Situasi di ruang isolasi berlaku standar seperti tertulis dalam buku panduan.

Obat dari Cina

Sementara Jonnes dirawat di rumah sakit, seseorang datang ke rumah kerabat Jonnes di Kabanjahe, memberikan dua bungkus plastik obat herbal berupa rumput-rumputan kering.

“Laki-laki itu datang dari Hong Kong, Cina. Dia menyebutkan nama melalui penerjemah, tapi lupa siapa. Dia bertanya, ‘Apa benar di sini keluarga Jonnes yang terkena flu burung seperti diberitakan media massa?’ Setelah dijawab benar, langsung diberikannya dua bungkus plastik itu. Katanya, ‘Ini untuk obat flu burung, dan dijamin pasti sembuh.’ Lalu obat itu diserahkan kepada saya untuk diantarkan,” ucap Len Ginting.

Sebenarnya hari itu Len Ginting baru saja pulang dari rumah sakit. Dia tidak kuat menahan sedih karena yakin, Jonnes juga tidak akan bertahan seperti saudara-saudaranya yang sudah meninggal dunia. Tapi mendengar ada obat alternatif untuk Jonnes, hari itu juga Len kembali ke Medan dan membawa dua bungkusan itu.

“Sehabis diseduh dengan air panas, rumput-rumputan itu menghasilkan air berwarna hitam pekat. Tak lama setelah diminumkan, Jonnes kemudian beberapa kali memuntahkan semacam cairan,” ujar Len Ginting.

Setelah satu bungkus obat herbal itu habis, kondisi Jonnes mulai membaik. Obat itu tidak diminum lagi, dan sisa yang satu bungkus disimpan. Namun Len tidak pasti, di mana bungkusan itu berada saat ini.

Jonnes benar-benar meninggalkan rumah sakit pada 20 Juli 2008 dan waktu itu wajib datang datang ke RSUP Adam Malik sepekan sekali untuk melakukan pengecekan. Sementara kini, justru tim dokter yang datang setiap enam bulan ke rumah Jonnes di Jl. Veteran, Gang Sempakata, Kabanjahe.

“Sifatnya hanya mengecekan rutin. Jonnes sudah tidak lagi mendapat perawatan, tidak minum obat apapun. Dia sudah sembuh total, namun mungkin selamanya akan dimonitor kesehatannya,” kata Luhur Soeroso.

Dikaitkan dengan Ilmu Hitam

Bagi Jonnes, virus flu burung itu mengubah banyak hal dalam dirinya. Selama di rumah sakit, hanya doa dan semangat yang dia miliki. “Kalau kena flu burung, ya cuma semangatlah yang kita punya. Apapun sulit dilakukan. Tapi terbukti bisa sembuh,” ujar Jonnes.

Sejak sembuh, Jonnes tidak lagi berkiprah di terminal Kabanjahe, di Kecamatan Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kini bersama istrinya, Amesti Br Tarigan (25) dia sibuk mengurus beberapa petak kebun jeruknya di Simbelang sembari menjaga kedua anaknya, Raymond Ginting (7) dan Veldy Ginting (3).

“Sekarang ini, ya ke ladanglah. Untuk usaha keluarga kita,” kata Jonnes.

Pertanian merupakan pilihan bagi Jonnes setelah merasa dirinya sudah sehat betul. Selama masa perawatan di rumah sakit, banyak hal ingin diubahnya, termasuk meninggalkan dunia terminal. Di kalangan preman terminal di Kabanjahe, nama Jonnes Ginting cukup disegani. Jonnes memang terlahir dari keluarga yang juga berkiprah di pasaran. Mendiang ayahnya Ponten Ginting, cukup disegani di Karo. Keluarga Ginting dikenal memiliki kanuragan tinggi, dan itu juga diyakini menurun pada Jonnes. Terbukti dia bisa selamat dari terpaan ilmu hitam yang dalam bahasa di media massa disebut sebagai flu burung.

Ketika flu burung merebak di Simbelang, sebagian warga tidak mempercayai itu sebagai penyakit, sebab yang terkena hanya satu keluarga. Mereka lebih yakin itu merupakan ilmu hitam atau biasa disebut teluh. Bagi warga Simbelang, flu burung merupakan kosakata yang baru, dan cenderung aneh untuk nama sebuah penyakit.

“Waktu itu masyarakat tidak berani keluar dari rumah bukan karena flu burung, tapi takut terkena teluh juga. Kalau penyakit, pastilah satu kampung itu kena semua. Lagi pula peternakan ayam di Desa Kacinambun yang dekat dengan Simbelang, justru tidak apa-apa. Tidak ada itu flu burung, namanya saja, flu burung, itu kabar burung, tidak bisa dipercaya,” kata Karsima Sembiring (20) salah seorang warga.

Ihwal kepercayaan masyarakat bahwa flu burung tersebut adalah ilmu hitam, diakui Kepala Dinas Kesehatan Karo, Diana E Sembiring. Sebagian masyarakat masih belum menerima desanya dikatakan terkena flu burung.

“Butuh waktu untuk mengubah itu, tapi penjelasan terus kita berikan. Sebagian warga sudah berubah pendapat,” ujar Diana.

Terlepas dari pemahaman yang belum seragam itu, kata Diana, ajakan tetap disampaikan kepada masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Masyarakat disarankan menjauhkan kandang minimal lima meter dari tempat tinggal. Kalau menemukan gejala kelainan penyakit, seperti demam tinggi, sesak, flu, batuk dan ngilu segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat.

Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus flu burung, di setiap Puskesmas di Karo disediakan 200 butir Tamiflu. Sementara di RSUD Kabanjahe, selain obat-obatan juga tersedia satu ruangan isolasi berikut peralatan untuk pasien flu burung yang nilainya mencapai Rp 1 miliar. Dengan begitu, jika kasus muncul, pasien tidak harus dirujuk ke RSUP Adam Malik, cukup ditangani di Karo saja.

Ruangan untuk pasien flu burung itu dimiliki RSUD Kabanjahe karena statusnya sebagai rumah sakit rujukan penanggulangan flu burung. Di Sumut, ada empat lagi rumah sakit sejenis, yakni RSUD Pematang Siantar, RSUD Tarutung, RSUD Padang Sidempuan, dan RSU Santa Elisabeth di Medan.

Kendati antisipasi dinilai sudah cukup baik, menurut anggota DPR RI asal Sumut Nasril Bahar, flu burung masih menjadi ancaman yang serius. Terbukti Sumut hingga saat ini masih dinyatakan sebagai daerah rawan flu burung, belum bisa bebas seperti halnya Maluku dan Gorontalo.

“Kasus-kasus pengucilan seperti yang dialami warga Kubu Simbelang, hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah. Harus ada modul penanganan yang baik. Pengucilan terjadi karena pengetahuan masyarakat yang minim, makanya sosialisasi harus dilakukan secara terus-menerus,” ujar Nasril.

Tentu saja, kata Nasril, yang terpenting adalah mencegah terjadinya korban jiwa. “Cukup delapan orang saja korban yang meninggal dunia di Sumut karena flu burung ini,” katanya.

Korban terakhir yang meninggal akibat flu burung adalah Nerpi Sitinjak (26), penduduk Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Dia meninggal pada 12 Mei 2007, setelah tiga hari dirawat di RSUP Adam Malik. (khairul ikhwan d)


  1. turang

    maunya kita bersama juga jaga kebersihan lah. biar tak ada lah plu burung itu

  2. itu juga merupakan salah satu solusi pencegahan.




Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: